Morning Note 31 Januari 2020
IHSG di perdagangan kemarin ditutup turun 55.44 poin atau melemah -0.90% setelah bergerak mixed sepanjang sesi perdagangan. Sebanyak 271 saham di tutup turun, 129 saham di tutup naik dan 124 saham di tutup stagnan. Secara sektoral, seluruh sektor di tutup melemah dimana pelemahan terbesar di pimpin oleh sektor Aneka Industri di susul sektor Indusri Dasar yang di tutup masing - masing -2,4% dan -1,39%. Kinerja IHSG sejalan dengan kinerja bursa saham asia yang kompak bergerak melemah. Bursa asia melemah setelah meningkatnya jumlah kematian akibat virus corona yang membuat maskapai penerbangan mengurangi penerbangan dan peritel menutup toko. Pabrik - pabrik di Tiongkok memperpanjang masa liburan, sedangkan maskapai global memangkas jumlah penerbangan. Wabah virus corona membuat para ekonom mulai memangkas prospek pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Komite kedaruratan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akan berkumpul kembali untuk memutuskan apakah meningkatkan status penyebaran virus corona menjadi keadaan darurat global. Aksi jual asing di pasar reguler yang mencapai Rp. 336 miliar turut menekan IHSG dimana saham yang paling banyak di jual yakni BBRI, BBCA, ASII, BMRI, dan BBNI.
Indeks saham di bursa Wall Street di perdagangan tadi malam ditutup menguat. Indeks Dow ditutup menguat 0,43%, Indeks Nasdaq menguat 0,26% dan Indeks S&P menguat 0,31%. Indeks tadi malam sempat mengalami tekanan jual yang mendorong pelemahan indeks yang masih dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap penyebaran wabah virus corona di Tiongkok serta dampaknya terhadap perekonomian. Namun indeks kemudian mampu berbalik arah dan ditutup menguat setelah adanya pernyataan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyatakan virus corona Tiongkok sebagai darurat kesehatan global dan menyatakan kepercayaan terhadap aksi tanggap Tiongkok. WHO melalui Direktur Jenderalnya, Tedros Adhanom, juga mengatakan bahwa WHO tidak menyukai bahkan menentang pemberlakuan pembatasan atau perdagangan ke Tiongkok. Seperti diketahui, kasus meninggal karena virus corona telah mencapai 171 orang dengan 8.000 kasus terinfeksi. Pusat Pengedalian dan Pencegahan Penyakit AS kemudian mengkonfirmasi penularan pertama virus corona manusia ke manusia di AS. Di sisi lain, dari kinerja emiten, saham Tesla melonjak 10,30% setelah melaporkan laba yang lebih kuat dari perkiraan dan saham Facebook anjlok 6,14% setelah melaporkan kinerja kuartalan yang menunjukkan kenaikan tajam namun memperingatkan perlambatan pertumbuhan dan melaporkan lonjakan beban. Sementara saham-saham berbasis perjalanan yang sebelumnya mengalami tekanan sentimen virus corona, tadi malam mencatatkan rebound. Sedangkan dari sisi data ekonomi AS, pertumbuhan ekonomi AS melambat menjadi 2,3% pada tahun 2019 dibanding 2,9% pada 2018 dan sebesar 2,1% pada Q4-2019 dalam perkiraan awal yang dirilis oleh Departemen Perdagangan AS. Perlambatan pertumbuhan PDB riil pada 2019 tersebut mencerminkan perlambatan investasi tetap perusahaan dan pengeluaran konsumsi Pribadi serta penurunan ekspor.
Dari kawasan regional pagi ini, Indeks Nikkei dibuka menguat 0,74% yang dipicu oleh pernyataan WHO yang menyatakan bahwa virus corona sebagai darurat internasional namun tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan ke Tiongkok. Senada dengan bursa Jepang, bursa di kawasan regional juga bergerak positif termasuk bursa Hang Seng yang sebelumnya mengalami tekanan masif.
Untuk perdagangan di bursa domestik akhir pekan ini, IHSG diperkirakan akan bergerak sideways dengan kecenderungan berpotensi rebound mengikuti pergerakan indeks di kawasan regional. IHGS di perkirakan akan bergerak dalam range 6027/5997—6109/6161.
Indeks saham di bursa Wall Street di perdagangan tadi malam ditutup menguat. Indeks Dow ditutup menguat 0,43%, Indeks Nasdaq menguat 0,26% dan Indeks S&P menguat 0,31%. Indeks tadi malam sempat mengalami tekanan jual yang mendorong pelemahan indeks yang masih dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap penyebaran wabah virus corona di Tiongkok serta dampaknya terhadap perekonomian. Namun indeks kemudian mampu berbalik arah dan ditutup menguat setelah adanya pernyataan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyatakan virus corona Tiongkok sebagai darurat kesehatan global dan menyatakan kepercayaan terhadap aksi tanggap Tiongkok. WHO melalui Direktur Jenderalnya, Tedros Adhanom, juga mengatakan bahwa WHO tidak menyukai bahkan menentang pemberlakuan pembatasan atau perdagangan ke Tiongkok. Seperti diketahui, kasus meninggal karena virus corona telah mencapai 171 orang dengan 8.000 kasus terinfeksi. Pusat Pengedalian dan Pencegahan Penyakit AS kemudian mengkonfirmasi penularan pertama virus corona manusia ke manusia di AS. Di sisi lain, dari kinerja emiten, saham Tesla melonjak 10,30% setelah melaporkan laba yang lebih kuat dari perkiraan dan saham Facebook anjlok 6,14% setelah melaporkan kinerja kuartalan yang menunjukkan kenaikan tajam namun memperingatkan perlambatan pertumbuhan dan melaporkan lonjakan beban. Sementara saham-saham berbasis perjalanan yang sebelumnya mengalami tekanan sentimen virus corona, tadi malam mencatatkan rebound. Sedangkan dari sisi data ekonomi AS, pertumbuhan ekonomi AS melambat menjadi 2,3% pada tahun 2019 dibanding 2,9% pada 2018 dan sebesar 2,1% pada Q4-2019 dalam perkiraan awal yang dirilis oleh Departemen Perdagangan AS. Perlambatan pertumbuhan PDB riil pada 2019 tersebut mencerminkan perlambatan investasi tetap perusahaan dan pengeluaran konsumsi Pribadi serta penurunan ekspor.
Dari kawasan regional pagi ini, Indeks Nikkei dibuka menguat 0,74% yang dipicu oleh pernyataan WHO yang menyatakan bahwa virus corona sebagai darurat internasional namun tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan ke Tiongkok. Senada dengan bursa Jepang, bursa di kawasan regional juga bergerak positif termasuk bursa Hang Seng yang sebelumnya mengalami tekanan masif.
Untuk perdagangan di bursa domestik akhir pekan ini, IHSG diperkirakan akan bergerak sideways dengan kecenderungan berpotensi rebound mengikuti pergerakan indeks di kawasan regional. IHGS di perkirakan akan bergerak dalam range 6027/5997—6109/6161.
Cermati :
UNVR, WSKT, ASII, HMSP, JSMR
JSMR : Perseroan membidik pertumbuhan EBITDA lebih dari 15 persen sepanjang 2020. Perseroan juga bakal fokus memperkuat struktur permodalan lewat beragam instrumen. Pertumbuhan EBITDA pada tahun ini bakal ditopang efisiensi operasional. Perseroan berharap, kenaikan EBITDA mampu mengimbangi kenaikan beban keuangan yang diprediksi naik seiring pengoperasian ruas-ruas tol baru.
Rekomendasi : Netral
FASW : Perseroan mengantongi fasilitas pinjaman dari OCBC Bank senilai US$100 juta atau setara Rp1,36 triliun. Pinjaman tersebut memiliki tenor tujuh tahun. Pinjaman tersebut akan digunakan untuk tambahan belanja modal dan pembiayaan kembali atas utang yang sudah ada atau refinancing.
Rekomendasi : Netral
TINS : Perseroan memulai groundbreaking pembangunan smelter timah senilai US$80 juta. Perseroan menargetkan tahun 2021 sudah bisa di operasikan. biaya pembangunan smelter berasal dari fasilitas export credit agency dari Finnvera dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia. Smelter tersebut memiliki kapasitas produksi 40.000 ton dan dibangun oleh PT Wijaya Karya di atas lahan seluas 2,1 hektare.
Rekomendasi: Netral
SUGI : Perseroan siap mengakuisisi proyek 44 sumur minyak di Cepu, Jawa Tengah dengan kapasitas produksi hingga 2.000 barel per hari. Perseroan telah melakukan memorandum of agreement dengan PT Nureka sebagai pemilik proyek untuk mengakuisisi sumur tersebut, dengan total kepemilikan hingga 85 persen saham.
Rekomendasi : Netral
KINO : Perseroan memberi pinjaman maksimal sebesar Rp 2 miliar kepada PT Ristra Klinik lndonesia. Pinjaman ini akan di gunakan untuk membiayai pelaksanaan kegiatan operasional. Transaksi ini bersifat afiliasi. Sebab, Ristra Klinik lndonesia merupakan perusahaan yang dikendalikan oleh Perseroan dengan kepemilikan saham mencapai 99% dari modal disetor.
Rekomendasi : Netral
JECC : Perseroan melakukan penambahan penyertaan modal sebesar Rp 47 miliar kepada PT Jembo Energindo. Penyertaan modal ini dilakukan dengan skema konversi utang milik Jembo Energindo dimana perseroan memiliki 99% saham Jembo Energindo. Penambahan penyertaan modal ini dilakukan untuk memperkuat restrukturisasi permodalan, memperkuat posisi keuangan, dan perbaikan kinerja keuangan Jembo Energindo.
Rekomendasi : Netral
CITA : Perseroan berencana menambah permodalan dengan melakukan penawaran umum terbatas atau right issue. Total dana yang akan di peroleh mencapai Rp 1,31 triliun. Dana yang diperoleh sekitar 48,16% akan digunakan untuk membayar seluruh pokok dan bunga utang bank jangka panjang kepada Bank OCBC. Kemudian, sekitar 36,92% akan digunakan untuk membayar seluruh pokok dan bunga utang entitas anak usaha, PT Harita Prima Abadi Mineral kepada DBS Bank Ltd., OCBC dan PT Bank OCBC NISP Tbk dan sisanya akan digunakan untuk modal kerja.
Rekomendasi : Netral
ASII : Menjajaki sejumlah investor asing dalam rencana akuisisi ruas tol di Pulau Jawa. Langkah tersebut merupakan upaya perseroan dalam mengejar target 500 km ruas tol pada 2021 dari saat ini sepanjang 350 km.
Rekomendasi : Netral
NISP : Hingga Desember 2019 membukukan laba bersih sebesar Rp. 2,94 triliun, tumbuh 11,36% dibanding laba bersih tahun 2018 yang mencapai Rp. 2,64 triliun. Pertumbuhan laba tersebut didukung dari pendapatan bunga bersih sebesar Rp. 6,44 triliun.
Rekomendasi : Netral
BJTM : Mencatatkan laba bersih sebesar Rp. 1,38 triliun pada tahun 2019 atau tumbuh 9,22% secara tahunan. Sementara itu, tahun ini perseroan menargetkan laba bersih tumbuh antara 9%-10% secara tahunan. Pertumbuhan laba tersebut didorong oleh pendapatan bunga bersih yang tumbuh 8,62% menjadi Rp. 4,04 triliun dan pendapatan berbasis komisi yang tumbuh 14,14% secara tahunan menjadi Rp. 560 miliar.
Rekomendasi : Netral
UNVR : Membukukan laba bersih sebesar Rp. 7,39 triliun pada tahun 2019 yang ditopang oleh penjualan yang tumbuh positif dan efisiensi beban pokok. Penjualan bersih tercatat tumbuh 2,68% dari Rp. 41,8 triliun menjadi Rp. 42,92 triliun. Peningkatan penjualan tersebut didorong oleh penjualan domestik yang tumbuh 5,8% secara tahunan. Sedangkan laba bersih tercatat turun 18,59% dari Rp. 9,08 triliun menjadi Rp. 7,39 triliun. Penurunan laba tersebut dikarenakan di tahun 2018 perseroan memperoleh keuntungan tidak reguler dari divestasi kategori spreads sebesar Rp. 2,1 triliun. Apabila divestasi tersebut tidak diperhitungkan maka laba bersih perseroan tercatat meningkat 9,3%.
Rekomendasi : Netral

Tentang Kami
Tata kelola










