Morning Note 28 February 2020
IHSG di perdagangan kemarin di tutup turun -153.22 poin atau melemah signifikan -2,70% setelah bergerak melemah sepanjang sesi perdagangan. Sebanyak 335 saham di tutup turun, 77 saham di tutup naik dan 117 saham di tutup stagnan. Secara sektoral, seluruh sektor di tutup melemah dengan pelemahan terbesar di pimpin oleh sektor Finance di susul oleh sektor Industri Dasar yang melemah masing - masing -3,94% dan -2,66%. Kinerja IHSG sejalan dengan mayoritas bursa kawasan regional yang di tutup melemah. Menyebarnya virus corona dengan cepat ke luar Tiongkok yang memakan korban cukup banyak dengan penyebaran yang sangat cepat meningkatkan kekhawatiran investor. Kekhawatiran ini membuat investor melakukan pergeseran kepemilikan di aset berisiko ke instrument save heaven. Sementara itu saham—saham perbankan mengalami tekanan paling besar saat ini. Terganggunya proses bisnis akan menyebabkan melemahnya kualitas kredit bank dimana kemungkinan adanya kredit bermasalah (NPL). Aksi jual investor asing di pasar reguler yang mencapai Rp 904 miliar turut menekan pergerakan IHSG dengan saham - saham yang paling banyak di jual yakni BBRI, BBCA, BMRI, BBNI, ICBP.
Indeks saham di bursa Wall Street di perdagangan tadi malam ditutup terkoreksi signifikan. Indeks Dow ditutup terkoreksi –4,42%, Indeks Nasdaq terkoreksi –4,61% dan Indeks S&P terkoreksi –4,42%. Melemahnya indeks tersebut seiring dengan meningkatnya obligasi pemerintah dan penurunan berkepanjangan harga minyak dikarenakan membesarnya kecemasan terhadap dampak virus corona yang menyebar dengan cepat secara global dan dampaknya terhadap perekonomian. Indeks S&P mengonfirmasi penurunan tercepat dalam sejarah dan ditutup di bawah level 3.000 untuk pertama kalinya sejak Oktober 2019 yang lalu . Sementara indeks Dow mencatatkan penurunan satu hari terbesar dalam sejarah yakni sebesar 1.190 poin, melampaui penurunan sebesar 1.031 pada awal pekan ini. Pada hari Rabu kemarin, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengkonfirmasi kasus virus corona pertama di AS yang tidak diketahui asalnya di California Utara yang mengindikasikan kemungkinan penyakit tersebut. Pasien tidak memiliki riwayat perjalanan atau kontak yang akan membuat orang tersebut dalam risiko. Di sisi lain, kemarin, Gubernur California Gavin Newson, mengatakan bahwa pihaknya sedang memantau sebanyak 8.400 orang yang terindikasi corona setelah melakukan perjalanan ke Asia. Menurut WHO, wabah corona berpotensi menjadi pandemic dan memasuki tahap yang sangat menentukan. Sementara di sisi lain, Bank of America memprediksi ekonomi global akan cenderung melemah. Goldman Sachs sebelumnya memprediksi prospek pertumbuhan laba perusahaan di AS menjadi 0 alias stagnan. Arab Saudi juga menghentikan kunjungan keagamaan, yang seharusnya menarik jutaan pendatang.
Dari kawasan regional pagi ini, indeks Nikkei dibuka melemah –1,96% yang turut dipicu oleh aksi jual masif di bursa AS dan Eropa akibat kekhawatiran terhadap dampak dari virus corona ke perekonomian. Senada dengan bursa Jepang, bursa di kawasan regional juga turut mengalami tekanan masif.
Untuk perdagangan di bursa domestik hari ini, IHSG diperkirakan masih rawan akan tekanan seiring dengan aksi jual yang melanda bursa global. IHSG di perkirakan akan bergerak dalam range 5480/5425—5638/5740.
Indeks saham di bursa Wall Street di perdagangan tadi malam ditutup terkoreksi signifikan. Indeks Dow ditutup terkoreksi –4,42%, Indeks Nasdaq terkoreksi –4,61% dan Indeks S&P terkoreksi –4,42%. Melemahnya indeks tersebut seiring dengan meningkatnya obligasi pemerintah dan penurunan berkepanjangan harga minyak dikarenakan membesarnya kecemasan terhadap dampak virus corona yang menyebar dengan cepat secara global dan dampaknya terhadap perekonomian. Indeks S&P mengonfirmasi penurunan tercepat dalam sejarah dan ditutup di bawah level 3.000 untuk pertama kalinya sejak Oktober 2019 yang lalu . Sementara indeks Dow mencatatkan penurunan satu hari terbesar dalam sejarah yakni sebesar 1.190 poin, melampaui penurunan sebesar 1.031 pada awal pekan ini. Pada hari Rabu kemarin, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengkonfirmasi kasus virus corona pertama di AS yang tidak diketahui asalnya di California Utara yang mengindikasikan kemungkinan penyakit tersebut. Pasien tidak memiliki riwayat perjalanan atau kontak yang akan membuat orang tersebut dalam risiko. Di sisi lain, kemarin, Gubernur California Gavin Newson, mengatakan bahwa pihaknya sedang memantau sebanyak 8.400 orang yang terindikasi corona setelah melakukan perjalanan ke Asia. Menurut WHO, wabah corona berpotensi menjadi pandemic dan memasuki tahap yang sangat menentukan. Sementara di sisi lain, Bank of America memprediksi ekonomi global akan cenderung melemah. Goldman Sachs sebelumnya memprediksi prospek pertumbuhan laba perusahaan di AS menjadi 0 alias stagnan. Arab Saudi juga menghentikan kunjungan keagamaan, yang seharusnya menarik jutaan pendatang.
Dari kawasan regional pagi ini, indeks Nikkei dibuka melemah –1,96% yang turut dipicu oleh aksi jual masif di bursa AS dan Eropa akibat kekhawatiran terhadap dampak dari virus corona ke perekonomian. Senada dengan bursa Jepang, bursa di kawasan regional juga turut mengalami tekanan masif.
Untuk perdagangan di bursa domestik hari ini, IHSG diperkirakan masih rawan akan tekanan seiring dengan aksi jual yang melanda bursa global. IHSG di perkirakan akan bergerak dalam range 5480/5425—5638/5740.
Cermati :
ICBP, INDF, ITMG, PTBA, ANTM
BERITA EMITEN
ASGR : Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp250,99 miliar sepanjang tahun 2019, jumlah tersebut menyusut sekitar 7,18 persen dibandingkan perolehan laba pada tahun sebelumnya sebesar Rp 270,4 miliar. Salah satu penyebab menurunnya laba bersih ini adalah kenaikan beban pokok yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan pendapatan. Perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp4,77 triliun, naik 17,24 persen dibandingkan pendapatan perseroan pada 2018 sebesar Rp4,07 triliun. Kenaikan pendapatan ini didukung oleh bisnis solusi dokumen dan solusi perkantoran. Masing-masing lini bisnis itu meningkat sekitar 7 persen dan 58 persen secara tahunan. Di sisi lain, beban pokok perseroan meningkat sekitar 21,45 persen menjadi Rp3,92 triliun. Adapun pada tahun sebelumnya, beban pokok perseroan mencapai Rp3,23 triliun.
Rekomendasi : Netral
LPPF : Perseroan mencatatkan kenaikan laba bersih 24,56 persen menjadi Rp1,37 triliun dibandingkan dengan periode sebelumnya sebesar Rp1,1 triliun. Pendapatan perseroan tumbuh tipis 0,3 persen menjadi Rp10,28 triliun dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp10,24 triliun. Penjualan eceran masih menjadi penopang pendapatan bersih perseroan dengan capaian sebesar Rp6,56 triliun. Meski capaian tersebut lebih rendah dari tahun sebelumnya, namun perseroan dapat meningkatkan pendapatan dari penjualan konsinyasi dan pendapatan jasa masing-masing Rp3,59 triliun dan Rp125,43 miliar.
Rekomendasi : Netral
AUTO : Perseroan membukukan laba bersih Rp739,67 miliar sepanjang tahun 2019. Jumlah ini meningkat 21,06 persen dibandingkan perolehan laba perseroan pada 2018 yang mencapai Rp610,98 miliar. Salah satu pendorong peningkatan laba tersebut adalah pertumbuhan pendapatan bersih sebesar 0,58 persen menjadi Rp15,44 triliun. Selain itu, beban pokok pendapatan perseroan mengalami penurunan sebesar 1,68 persen secara tahunan menjadi Rp13,25 triliun dari tahun periode yang sama tahun lalu sebesar Rp13,48 triliun.
Rekomendasi : Netral
UNTR : Perseroan mencatatkan penjualan alat berat mencapai 2.926 unit sepanjang tahun 2019. Realisasi tersebut sedikit melebihi target penjualan yang dipasang perseroan yakni sebanyak 2.900 unit. Meski penjualan melampaui target, realisasi ini turun dibandingkan realisasi penjualan pada 2018. Pada 2018 perseroan mencatatkan penjualan alat berat Komatsu hingga 4.879 unit. Penjualan alat berat sepanjang 2019 turun 40,02% secara yoy. Dari 2.926 unit alat berat yang dijual, 41% diantaranya merupakan penjualan ke sektor pertambangan . Disusul penjualan ke sektor konstruksi sebesar 31% . Penjualan ke sektor kehutanan (forestry) sebesar 16%. Penjualan terendah dicatatkan penjualan ke sektor agribisnis yakni hanya 12% . Sementara itu, pangsa pasar Komatsu sepanjang 2019 mencapai 30%.
Rekomendasi : Netral\
GIAA : Segera merestrukturisasi anak dan cucu usahanya melalui sejumlah skema seperti likuidasi, merger dan optimalisasi dalam waktu dekat. Aksi korporasi tersebut dilakukan bersamaan dengan upaya perseroan melakukan reprofiling utang.
Rekomendasi : Netral
TOPS : Berhasil memperoleh kontrak baru senilai Rp. 50,6 miliar dari proyek hotel Lido Lake Resort 2 yang dikelola oleh MNC Land. Dalam proyek tersebut, perseroan akan mengerjakan struktur hotel. Diharapkan dengan adanya perolehan kontrak baru tersebut bisa berpengaruh positif terhadap laju bisnis perseroan pada tahun ini.
Rekomendasi : Netral
ASII : Membukukan pendapatan bersih sebesar Rp. 237,16 triliun atau turun tipis 0,85% secara tahunan dibanding tahun 2018 yang sebesar Rp. 239,2 triliun. Pendapatan tersebut mayoritas bersumber dari segmen otomotif yakni Rp. 104,84 triliun, namun segmen tersebut mengalami kontraksi sebesar 2,3% secara tahunan. Sementara itu, laba bersih tahun 2019 tercatat naik tipis 0,15% dari Rp. 21,67 triliun menjadi Rp. 21,7 triliun.
Rekomendasi : Netral

Tentang Kami
Tata kelola










