Morning Note 3 Maret 2020
IHSG di perdagangan kemarin di tutup turun -91.46 poin atau melemah -1,68% setelah bergerak mixed sepanjang sesi perdagangan. Sebanyak 236 saham di tutup turun, 158 saham di tutup naik dan 138 saham di tutup stagnan. Secara sektoral, sebanyak 9 sektor di tutup melemah dengan pelemahan terbesar di pimpin oleh sektor finance di susul oleh sektor mining yang di tutup melemah masing - masing -3,05% dan -1,58%. Kinerja IHSG berbanding terbalik dengan kinerja bursa kawasan asia yang mayoritas di tutup di zona hijau. Penurunan IHSG di sebabkan oleh aksi jual karena kasus wabah virus corona pertama di Indonesia. Pengumuman pemerintah terhadap kasus wabah virus corona di Indonesia membuat IHSG berbalik arah ke zona merah yang sempat menguat pada awal sesi perdagangan. Sementar itu, aksi jual investor asing di pasar reguler yang mencapai Rp 325 miliar turut menekan kinerja IHSG dengan saham - saham yang paling banyak di jual yakni ASII, BBNI, UNVR, BBCA, BBRI.
Indeks saham di bursa Wall Street di perdagangan di bursa Wall Street di perdagangan tadi malam ditutup menguat signifikan sekaligus mengakhiri pelemahan selama tujuh hari beruntun serta mengakhiri pekan terburuk sejak tahun 2008. Indeks Dow ditutup menguat 5,09%, Indeks Nasdaq menguat 4,49% dan Indeks S&P menguat 4,60%. Menguatnya indeks tadi malam yang dipimpin oleh saham sektor teknologi, salah satunya dipengaruhi oleh adanya upaya-upaya bank sentral dunia dalam menghadapi dampak ekonomi akibat virus corona. The Fed AS membuka peluang penurunan suku bunga lanjutan untuk meminimalkan dampak wabah corona. Bank Sentral Jepang dan Inggris pun akan melakukan stimulus guna mendorong ekonomi. Pelaku pasar pun kemudian memperkirakan kemungkinan pemangkasan suku bunga The Fed AS hingga 50 bps dari level sekarang 1,50%-1,75% pada rapat yang akan diadakan pada 17-18 Maret 2020. Selain itu, para menteri keuangan negara G-7 juga berencana mengadakan teleconference untuk membahas tindakan untuk mengatasi virus corona baru. Presiden AS, Donald Trump juga meminta The Fed AS untuk bergerak lebih cepat dengan penurunan suku bunga dan juga mengatakan bahwa dirinya telah mengarahkan perusahaan obat untuk mempercepat kerja untuk membuat vaksin virus corona. Virus corona yang menyebar ke berbagai negara memang mengkhawatirkan prospek pertumbuhan ekonomi global. Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memangkas proyeksinya untuk pertumbuhan global secara full year dari 2,9% menjadi hanya 2,4%, laju terlemah sejak krisis finansial 2008-2009. Dan juga memperkirakan dengan scenario terburuk pertumbuhan ekonomi global bisa turun menjadi 1,5% pada tahun ini.
Dari kawasan regional pagi ini, indeks Nikkei dibuka menguat 1,44% yang turut dipengaruhi oleh rebound signifikan indeks di bursa Wall Street serta kabar bahwa menteri keuangan negara G-7 dan bank sentral akan mengadakan pembicaraan mengenai masalah dampak virus corona terhadap perekonomian.
Untuk perdagangan di bursa domestik hari ini, IHSG berpeluang menguat mengikuti penguatan indeks di bursa regional dan global dengan dibayangi sentimen domestik terkait adanya WNI yang terkena virus corona. IHSG hari ini di perkirakan akan bergerak dalam range 5314/5266—5450/5539.
Indeks saham di bursa Wall Street di perdagangan di bursa Wall Street di perdagangan tadi malam ditutup menguat signifikan sekaligus mengakhiri pelemahan selama tujuh hari beruntun serta mengakhiri pekan terburuk sejak tahun 2008. Indeks Dow ditutup menguat 5,09%, Indeks Nasdaq menguat 4,49% dan Indeks S&P menguat 4,60%. Menguatnya indeks tadi malam yang dipimpin oleh saham sektor teknologi, salah satunya dipengaruhi oleh adanya upaya-upaya bank sentral dunia dalam menghadapi dampak ekonomi akibat virus corona. The Fed AS membuka peluang penurunan suku bunga lanjutan untuk meminimalkan dampak wabah corona. Bank Sentral Jepang dan Inggris pun akan melakukan stimulus guna mendorong ekonomi. Pelaku pasar pun kemudian memperkirakan kemungkinan pemangkasan suku bunga The Fed AS hingga 50 bps dari level sekarang 1,50%-1,75% pada rapat yang akan diadakan pada 17-18 Maret 2020. Selain itu, para menteri keuangan negara G-7 juga berencana mengadakan teleconference untuk membahas tindakan untuk mengatasi virus corona baru. Presiden AS, Donald Trump juga meminta The Fed AS untuk bergerak lebih cepat dengan penurunan suku bunga dan juga mengatakan bahwa dirinya telah mengarahkan perusahaan obat untuk mempercepat kerja untuk membuat vaksin virus corona. Virus corona yang menyebar ke berbagai negara memang mengkhawatirkan prospek pertumbuhan ekonomi global. Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memangkas proyeksinya untuk pertumbuhan global secara full year dari 2,9% menjadi hanya 2,4%, laju terlemah sejak krisis finansial 2008-2009. Dan juga memperkirakan dengan scenario terburuk pertumbuhan ekonomi global bisa turun menjadi 1,5% pada tahun ini.
Dari kawasan regional pagi ini, indeks Nikkei dibuka menguat 1,44% yang turut dipengaruhi oleh rebound signifikan indeks di bursa Wall Street serta kabar bahwa menteri keuangan negara G-7 dan bank sentral akan mengadakan pembicaraan mengenai masalah dampak virus corona terhadap perekonomian.
Untuk perdagangan di bursa domestik hari ini, IHSG berpeluang menguat mengikuti penguatan indeks di bursa regional dan global dengan dibayangi sentimen domestik terkait adanya WNI yang terkena virus corona. IHSG hari ini di perkirakan akan bergerak dalam range 5314/5266—5450/5539.
Cermati :
BMRI, BBNI, BBRI, ADRO, ASII, BRPT, EXCL, GGRM
BERITA EMITEN
UNTR : Membukukan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp. 11,3 triliun pada tahun 2019, meningkat tipis dibanding tahun 2018 yang sebesar Rp.11,1 triliun. Kenaikan laba ditopang oleh pendapatan yang mencapai Rp. 84,4 triliun dibanding tahun 2018 yang sebesar Rp. 84,62 tiliun. Penurunan pendapatan disebabkan oleh menurunnya dua lini usaha terbesar yakni kontraktor penambangan dan mesin konstruksi yang masing-masing berkontribusi sebesar 47% dan 27% terhadap total pendapatan perseroan.
Rekomendasi : Netral
JPFA : Membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp. 1,76 triliun pada tahun 2019. Raihan tersebut mengalami penurunan sebesar 18,55% dari tahun 2018 yang sebesar Rp. 2,16 triliun. Sementara pendapatan tercatat turun 8,02% dari Rp. 36,74 triliun menjadi Rp. 36,74 triliun. Turunnya pencapaian laba tersebut selain penurunan pendapatan juga disebabkan oleh naiknya beban pokok penjualan sebesar 10,48% dari Rp.26,8 triliun menjadi Rp. 29,61 triliun.
Rekomendasi : Netral
ASSA : Semakin memperkuat lini bisnisnya dengan kembali menambah 7000 armada baru pada tahun ini. Demi memuluskan rencana tersebut, perseroan menyiapkan dana sebesar Rp. 2 triliun dengan sumber pendanaan belanja modal berasal dari pinjaman perbankan. Sebesar Rp. 1,4 triliun untuk pembelian armada baru dan Rp. 600 miliar untuk kebutuhan modal kerja anak usaha perseroan.
Rekomendasi : Netral
BEEF : Berencana menambah modal melalui mekanisme private placement. Hal tersebut dilakukan untuk memperkuat permodalan perseroan. Perseroan berencana melepas sebanyak 188,43 juta saham atau 9,1% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh dengan harga nominal Rp. 100 dan harga penerbitan sekitar Rp. 393,84 per unit saham.
Rekomendasi : Netral
TOTL : Perseroan membukukan kontrak baru senilai Rp48,7 miliar pada awal tahun ini. Kontrak tersebut berasal dari proyek gedung sekolah dan hotel. Perseroan memiliki kontrak bawaan atau carry over dari tahun lalu senilai Rp4,2 triliun. Dengan tambahan di awal tahun ini, total kontrak on hand yang dimiliki perseroan saat ini mencapai sekitar Rp4,24 triliun. Perseroan juga mematok target pendapatan sebanyak mencapai Rp2,3 triliun dan target laba ditetapkan sebesar Rp175 miliar.
Rekomendasi : Netral
WTON : Perseroan membukukan laba bersih senilai Rp512,34 miliar sepanjang tahun 2019, tumbuh 5,34 persen dari perolehan laba pada 2018. Perseroan membukukan pendapatan usaha sebesar Rp7,08 triliun, naik 2,2 persen dari pendapatan pada tahun sebelumnya yang mencapai Rp6,93 triliun. Pendapatan ini dikontribusi oleh pendapatan putar dan non putar yang secara total mencapai Rp6,09 triliun dan sisanya dari pendapatan jasa dan konstruksi.
Rekomendasi : Netral
TOPS : Perseroan meraih kontrak baru pembangunan apartemen Sky House Alam Sutera senilai Rp192,5 miliar. Sebelumnya, perseroan juga telah mendapat kontrak dari PT MNC Land Tbk untuk pembangunan hotel di Sukabumi senilai Rp50,6 miliar. Menara atau tower pertama dari apartemen Sky House Alam Sutera tersebut akan dibangun di atas lahan seluas 2,5 Hektare. Rencana pembangunan dimulai pada Maret 2020 dan berlangsung selama 24 bulan.
Rekomendasi : Netral

Tentang Kami
Tata kelola










