Morning Note 10 Maret 2020
IHSG di perdagangan kemarin di tutup turun -361.73 poin atau -6.58% setelah bergerak melemah sepanjang sesi perdagangan. Sebanyak 382 saham di tutup turun, 43 saham di tutup naik dan 102 saham di tutup stagnan. Secara sektoral, seluruh sektor di tutup melemah dengan pelemahan terbesar di pimpin oleh sektor Aneka Industri di susul oleh sektor Perkebunan yang di tutup masing - masing -9,42% dan -7,92%. Kinerja IHSG sejalan dengan kinerja bursa kawasan asia yang kompak di tutup melemah. Merebaknya kasus virus corona menyebabkan tekanan pada bursa global. Sejak diumumkannya lonjakan kasus virus corona di luar China, bursa saham global bergerak dengan volatilitas tinggi. Di sisi lain, anjloknya harga minyak dunia juga memberikan tekanan masif terhadap pergerakan indeks saham di bursa global. Tekanan jual yang signifikan membuat mayoritas bursa saham utama kawasan Asia tertekan sejak awal tahun. Asing mencatatkan aksi jual di pasar reguler mencapai Rp 431 miliar dengan saham - saham yang paling banak di jual yakni BBCA, BBRI, TLKM, LINK, GGRM.
Indeks saham di bursa Wall Street di perdagangan tadi malam ditutup terkoreksi sangat signifikan. Indeks Dow ditutup terkoreksi –7,79%, Indeks Nasdaq terkoreksi –7,29% dan Indeks S&P terkoreksi –7,60%. Pelemahan indeks tersebut merupakan yang terburuk sejak krisis keuangan tahun 2008 yang lalu. Anjloknya bursa Wall Street tersebut dipicu oleh perang harga minyak yang mendorong anjloknya harga minyak dan kegelisahan investor terhadap penyebaran virus corona yang melonjak. Imbal hasil obligasi AS pun turut anjlok dan harga minyak mentah anjlok 20%. Yield obligasi negara AS bertenor 10 tahun merosot ke 0,318% yang menunjukkan kenaikan harga dan perburuan investor di aset safe haven tersebut dan merupakan rekor terendah imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun. Sedangkan harga minyak mencatatkan penurunan harian terbesar sejak perang teluk tahun 1991. Indeks S&P anjlok paling dalam sejak tahun 2008. Sementara indeks Dow jatuh hingga 2.000 poin dan saham-saham berkapitalisasi kecil turun lebih dari 9% dikarenakan investor mengalihkan modalnya dari aset-aset berisiko. Di sisi lain, investor meminta tanggapan dari pemerintahan Presiden Trump yang sejauh ini mengisyaratkan bahwa mereka yakin penyebaran virus corona akan terkendali. Hampir semua emiten kecuali sembilan emiten dalam komponen indeks S&P mengalami penurunan harga. Exxon Mobil dan Chevron turun lebih dari 12% sedangkan saham perbankan anjlok 11%. Saham Apple anjlok 7,9% dan Dow Chemical anjlok 22%. Di awal perdagangan, yaitu pada pukul 09.34 waktu New York-AS atau pukul 21.34 WIB, Wall Street melakukan penghentian perdagangan sementara selama 15 menit untuk mencegah kepanikan pasar lebih besar seperti pada krisis tahun 2008 lalu. Sementara itu Presiden Trump dan tim ekonominya akan mempertimbangkan langkah-langkah untuk mengatasi dampak dari virus corona dan kejatuhan harga minyak yang berlangsung tiba-tiba. Langkah tersebut antara lain adalah opsi pendanaan untuk pendanaan orang sakit dan bantuan untuk produsen energi AS yang tengah terpukul.
Dari kawasan regional pagi ini, Indeks Nikkei dibuka melemah –1,14% yang turut dipicu oleh anjloknya pasar saham di AS yang diikuti oleh pasar saham global akibat jatuhnya harga minyak dan kekhawatiran terhadap meningkatnya penyebaran wabah virus corona.
Untuk perdagangan di bursa domestik hari ini, IHSG diperkirakan masih rawan akan tekanan seiring dengan anjloknya indeks di bursa Wall Street dan pasar saham global. Adanya kebijakan terbaru dari BEI dan OJK diharapkan dapat menahan laju penurunan IHSG. IHSG hari ini di perkirakan akan bergerak dalam range 5058/4980—52920/5443.
Indeks saham di bursa Wall Street di perdagangan tadi malam ditutup terkoreksi sangat signifikan. Indeks Dow ditutup terkoreksi –7,79%, Indeks Nasdaq terkoreksi –7,29% dan Indeks S&P terkoreksi –7,60%. Pelemahan indeks tersebut merupakan yang terburuk sejak krisis keuangan tahun 2008 yang lalu. Anjloknya bursa Wall Street tersebut dipicu oleh perang harga minyak yang mendorong anjloknya harga minyak dan kegelisahan investor terhadap penyebaran virus corona yang melonjak. Imbal hasil obligasi AS pun turut anjlok dan harga minyak mentah anjlok 20%. Yield obligasi negara AS bertenor 10 tahun merosot ke 0,318% yang menunjukkan kenaikan harga dan perburuan investor di aset safe haven tersebut dan merupakan rekor terendah imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun. Sedangkan harga minyak mencatatkan penurunan harian terbesar sejak perang teluk tahun 1991. Indeks S&P anjlok paling dalam sejak tahun 2008. Sementara indeks Dow jatuh hingga 2.000 poin dan saham-saham berkapitalisasi kecil turun lebih dari 9% dikarenakan investor mengalihkan modalnya dari aset-aset berisiko. Di sisi lain, investor meminta tanggapan dari pemerintahan Presiden Trump yang sejauh ini mengisyaratkan bahwa mereka yakin penyebaran virus corona akan terkendali. Hampir semua emiten kecuali sembilan emiten dalam komponen indeks S&P mengalami penurunan harga. Exxon Mobil dan Chevron turun lebih dari 12% sedangkan saham perbankan anjlok 11%. Saham Apple anjlok 7,9% dan Dow Chemical anjlok 22%. Di awal perdagangan, yaitu pada pukul 09.34 waktu New York-AS atau pukul 21.34 WIB, Wall Street melakukan penghentian perdagangan sementara selama 15 menit untuk mencegah kepanikan pasar lebih besar seperti pada krisis tahun 2008 lalu. Sementara itu Presiden Trump dan tim ekonominya akan mempertimbangkan langkah-langkah untuk mengatasi dampak dari virus corona dan kejatuhan harga minyak yang berlangsung tiba-tiba. Langkah tersebut antara lain adalah opsi pendanaan untuk pendanaan orang sakit dan bantuan untuk produsen energi AS yang tengah terpukul.
Dari kawasan regional pagi ini, Indeks Nikkei dibuka melemah –1,14% yang turut dipicu oleh anjloknya pasar saham di AS yang diikuti oleh pasar saham global akibat jatuhnya harga minyak dan kekhawatiran terhadap meningkatnya penyebaran wabah virus corona.
Untuk perdagangan di bursa domestik hari ini, IHSG diperkirakan masih rawan akan tekanan seiring dengan anjloknya indeks di bursa Wall Street dan pasar saham global. Adanya kebijakan terbaru dari BEI dan OJK diharapkan dapat menahan laju penurunan IHSG. IHSG hari ini di perkirakan akan bergerak dalam range 5058/4980—52920/5443.
Cermati :
ERAA, LPPF, PTBA, JSMR, TLKM, WIKA
PTPP : Mendapatkan kontrak baru senilai Rp. 3,4 triliun sepanjang dua bulan pertama tahun ini. Dengan capaian kontrak baru tersebut total order book perseroan mencapai Rp. 72 triliun. Adapun total target kontrak baru tahun 2020 mencapai Rp. 40 triliun. Perseroan juga membidik sejumlah tender proyek konstruksi senilai total Rp. 9,1 triliun. Tender tersebut diharapkan bisa berkontribusi pada perolehan nilai kontrak baru Q1-2020 yang ditargetkan sebesar Rp. 6,5 trilin.
Rekomendasi : Netral
TRIN : Optimistis bisa meraih penjualan produk-produk properti sekitar Rp. 800 miliar - Rp. 900 miliar hingga akhir 2020. Perseroan akan fokus pada penjualan proyek signature antara lain Collins Boulevard, The Smith di Tangerang dan Marcs Boulevard di Batam.
Rekomendasi : Netral
BDMN : Akan memacu investasi pada tahun ini untuk mendorong pertumbuhan bisnis. Investasi tersebut meliputi pengembangan produk baru dari sisi kredit dan pendanaan, serta investasi yang mendukung operasional dan digitalisasi perbankan.
Rekomendasi : Netral
WEGE : Perseroan mencetak laba Rp456,36 miliar pada 2019, tumbuh 2,67 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang membukukan pendapatan sebesar Rp4,56 triliun. Dibandingkan catatan pada tahun sebelumnya, pendapatan perseroan tercatat lebih rendah 21,55 persen.Penurunan pendapatan ini juga diikuti dengan penurunan beban pokok penjualan sebesar 21,5 persen secara year on year (yoy), dari Rp5,22 triliun pada 2018 menjadi Rp4,1 triliun pada 2019. tetapi perseroan masih dapat membukukan kenaikan laba bersih pada tahun lalu. Hal ini dikontribusi oleh penurunan beberapa pos beban dan tambahan keuntungan.
Menargetkan memperoleh kontrak dihadapi sebesar Rp. 27,29 triliun pada tahun ini atau naik 56,66% dibanding realisasi order book tahun lalu yang sebesar Rp. 17,42 triliun. Total kontrak dihadapi terdiri atas target kontrak baru tahun 2020 sebesar Rp. 14,94 triliun dan carry over 2019 yang sebesar Rp. 12,34 triliun. Komposisi perolehan kontrak baru tahun 2020 direncanakan berasal dari pemerintah 42%, BUMN 38% dan swasta 20%.
Rekomendasi : Netral
ESTA : Perseroan menargetkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih di kisaran 10 persen pada 2020. Segmen baru akan menjadi salah satu penyokong pertumbuhan. 70 persen pendapatan akan disumbang oleh segmen perhotelan sisanya berasal dari rental kendaraan dan penyewaan ruko.
Rekomendasi : Netral
BESS : Perseroan optimis bisa mencetak pertumbuhan laba sebesar 5 persen pada tahun ini. Pertumbuhan laba akan ditopang perolehan pendapatan yang diestimasi naik 10 persen. Perolehan laba ditopang ekspansi perseroan berkat pembelian tiga uniti kapal. Pembelian kapal dilakukan untuk mengganti armada yang didatangkan dengan status sewa.
Rekomendasi : Netral

Tentang Kami
Tata kelola










