Morning Note 24 Maret 2020
IHSG di perdagangan kemarin di tutup turun -205.42 poin atau melemah -4,90% setelah bergerak melemah sepanjang sesi perdagangan. Sebanyak 332 saham di tutup turun, 68 saham di tutup naik dan 112 saham di tutup stagnan. Secara sektoral, seluruh sektor di tutup melemah, dengan pelemahan terbesar di pimpin oleh sektor Insutri Dasar di susul oleh sektor Manufaktur yang di tutup masing-masing melemah -5,87% dan -5,77%. Kinerja IHSG sejalan dengan kinerja bursa kawasan asia yang kompak di tutup melemah. IHSG bahkan sempat di berhentikan perdagangannya selama 30 menit menjelang akhir perdagangan karena anjlok -5,01%. Bursa Asia melemah akibat terbebani lonjakan jumlah korban jiwa pandemi virus corona (Covid-19) dan tak tercapainya kesepakatan dalam Kongres Amerika Serikat soal rencana paket bantuan. Hingga Senin 23/3, jumlah total kasus Covid-19 mencapai lebih dari 340.000 kasus, dengan lebih dari 14.000 korban jiwa dan hampir 100.000 orang dinyatakan sembuh di seluruh dunia. Ekonom Morgan Stanley memperingatkan epidemi corona dapat menyebabkan PDB AS menyusut hingga 30 persen pada kuartal II/2020. Pandemi virus corona dikatakan akan menimbulkan resesi yang lebih dalam bagi ekonomi AS daripada yang diperkirakan sebelumnya. Dari dalam negeri, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga akhir tahun bergantung pada cara penanganan Covid-19, baik di dalam negeri maupun seluruh dunia. Sri Mulyani memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini masih bisa tumbuh 4 persen dengan skenario moderat. Pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa hanya tumbuh 2,5 persen bahkan 0 persen jika durasi Covid-19 lebih dari 3 sampai 6 bulan terutama jika penanganan bencana Covid-19 dengan cara lockdown. Di sisi lain Asing mencatatkan aksi jual di pasar reguler yang mecapai Rp 111 miliar dengan saham - saham yang paling banyak di jual yakni BBCA, TLKM, BBRI, GGRM, UNTR.
Indeks saham di bursa Wall Street di perdagangan tadi malam masih melanjutkan pelemahannya. Indeks Dow ditutup melemah –3,04%, Indeks Nasdaq melemah –0,27% dan Indeks S&P melemah –2,93%. Melemahnya indeks tadi malam dipengaruhi oleh kegagalan tercapainya kesepakatan di parlemen AS terkait Rancangan Undang yang akan mengesahkan pengeluaran fiscal raksasa untuk merangsang ekonomi AS untuk mengurangi pukulan ekonomi dari virus corona. Dan gagalnya kesepakatan tersebut adalah untuk kedua kalinya dalam kurun waktu kurang dari 24 jam. Padahal sebelumnya di awal pekan, Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin, mengatakan kepada Jim Cramer dari CNBC bahwa Kongres AS “sangat dekat” untuk menyelesaikan paket fiscal dan menggarisbawahi “harus didorong maju hari ini”. Mnuchin juga menegaskan bahwa pemerintah AS menggunakan sebagian dana yang dimilikinya dan membutuhkan tambahan dana untuk dapat bergerak maju dan mendukung rakyat dan ekonomi AS. Faktor kegagalan tersebut menekan pergerakan indeks di tengah-tengah sikap The Fed AS yang mengumumkan program pembelian aset. The Fed mengatakan bahwa program tersebut akan berjalan dalam “jumlah yang diperlukan untuk mendukung kelancaran fungsi pasar dan transmisi kebijakan moneter yang efektif ke kondisi keuangan dan ekonomi yang lebih luas”.
Dari kawasan regional pagi ini, Indeks Nikkei dibuka menguat 1,89% yang dipengaruhi oleh langkah-langkah stimulus dari otoritas global untuk memerangi tekanan ekonomi akibat virus corona dimana salah satunya adalah kebijakan The Fed AS yang mengatakan akan melakukan program pembelian aset besar-besaran. Sentimen tersebut juga turut mendorong pergerakan positif indeks di bursa kawasan regional.
Untuk perdagangan di bursa domestik hari ini, IHSG diperkirakan berpotensi mengalami teknikal rebound mengikuti pergerakan indeks di bursa kawasan regional dengan dibayangi kekhawatiran meningkatnya kasus corona di dalam negeri. IHSG hari ini di perkirakan akan bergerak dalam range : 3911/3833—4131/4273.
Indeks saham di bursa Wall Street di perdagangan tadi malam masih melanjutkan pelemahannya. Indeks Dow ditutup melemah –3,04%, Indeks Nasdaq melemah –0,27% dan Indeks S&P melemah –2,93%. Melemahnya indeks tadi malam dipengaruhi oleh kegagalan tercapainya kesepakatan di parlemen AS terkait Rancangan Undang yang akan mengesahkan pengeluaran fiscal raksasa untuk merangsang ekonomi AS untuk mengurangi pukulan ekonomi dari virus corona. Dan gagalnya kesepakatan tersebut adalah untuk kedua kalinya dalam kurun waktu kurang dari 24 jam. Padahal sebelumnya di awal pekan, Menteri Keuangan AS, Steven Mnuchin, mengatakan kepada Jim Cramer dari CNBC bahwa Kongres AS “sangat dekat” untuk menyelesaikan paket fiscal dan menggarisbawahi “harus didorong maju hari ini”. Mnuchin juga menegaskan bahwa pemerintah AS menggunakan sebagian dana yang dimilikinya dan membutuhkan tambahan dana untuk dapat bergerak maju dan mendukung rakyat dan ekonomi AS. Faktor kegagalan tersebut menekan pergerakan indeks di tengah-tengah sikap The Fed AS yang mengumumkan program pembelian aset. The Fed mengatakan bahwa program tersebut akan berjalan dalam “jumlah yang diperlukan untuk mendukung kelancaran fungsi pasar dan transmisi kebijakan moneter yang efektif ke kondisi keuangan dan ekonomi yang lebih luas”.
Dari kawasan regional pagi ini, Indeks Nikkei dibuka menguat 1,89% yang dipengaruhi oleh langkah-langkah stimulus dari otoritas global untuk memerangi tekanan ekonomi akibat virus corona dimana salah satunya adalah kebijakan The Fed AS yang mengatakan akan melakukan program pembelian aset besar-besaran. Sentimen tersebut juga turut mendorong pergerakan positif indeks di bursa kawasan regional.
Untuk perdagangan di bursa domestik hari ini, IHSG diperkirakan berpotensi mengalami teknikal rebound mengikuti pergerakan indeks di bursa kawasan regional dengan dibayangi kekhawatiran meningkatnya kasus corona di dalam negeri. IHSG hari ini di perkirakan akan bergerak dalam range : 3911/3833—4131/4273.
Cermati :
ADRO, CTRA, EXCL, ICBP, INDF, ITMG, MNCN
BERITA EMITEN
DEWA : Perseroan mencatatkan peningkatan volume pengupasan tanah atau overburden removal sebesar 21,55 juta bank cubic meter hingga Februari 2020. Jumlah tersebut naik 26,24 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 17,07 juta bcm. Namun demikian, perseroan hanya mencatatkan volume OB sebesar 10,4 juta bcm sepanjang Februari 2020, menurun 5,3 persen dibandingkan perolehan pada Januari 2020 sebesar 11,07 juta bcm.
Rekomendasi : Netral
EXCL : Perseroan mencatat kenaikan trafik data sepanjang pemberlakuan bekerja dari rumah (work from home/WFH) dan belajar dari rumah (study from home/SFH). Utamanya disumbang oleh aplikasi belajar dan layanan video on demand. Sepanjang satu minggu WFH dan SFH diberlakukan, perseroan mendeteksi perubahan perilaku pelanggan. Salah satunya trafik data harian yang melonjak sebanyak 10-15 persen. Untuk trafik telepon naik 2 persen dan SMS atau pesan singkat 3 persen. Lonjakan tersebut paling tinggi terjadi di pagi hari yakni antara pukul 09.00 hingga 12.00 siang. Sementara itu yang menjadi penyumbang terbesar pada lonjakan trafik data perseroan adalah layanan video on demand (VoD) Netflix dengan kontribusi mencapai 50 persen. Kemudian berturut-turut ada gim Mobile Legend (10 persen) dan layanan streaming video Youtube (5 persen).
Rekomendasi : Netal
PBRX : Perseroan berkomitmen untuk memproduksi 20 juta washable masker dan juga 100.000 hazmat sebagai bentuk dukungan penanggulangan penyebaran COVID-19 di Indonesia. Perseroan berkontribusi melalui asosiasi pertekstilan Indonesia (API) sebanyak 100.000 washable masker kepada palang merah Indonesia (PMI). Selain itu, perseroan juga memberikan 65.000 washable masker ke berbagai instansi. Perseroan ajan koordinasi untuk bisa memproduksi sampai 100 juta washable masker dan 500.000 hazmat dalam waktu tiga bulan.
Rekomendasi : Netral
WIKA : Perseroan menargetkan laba bersih tahun ini tumbuh 11,41% menjadi Rp 2,92 triliun, dibanding realisasi tahun lalu Rp 2,62 triliun. Salah satu strategi perseroan adalah mengejar target kontrak baru 2020 sebesar Rp 65,5 triliun, melonjak 59,7% dibanding realisasi 2019 sebesar Rp 42 triliun. Sepanjang 2019 perseroan mengalami kenaikan laba bersih sebesar 26,42% dibanding periode 2018. Capaian kinerja tersebut, salah satunya dipengaruhi oleh kuatnya komitmen dan strategi perseroan dalam menjalankan roda bisnisnya di tengah siklus politik lima tahunan yaitu, pemilihan umum.
Rekomendasi : Netral
INDF : Perseroan mencatatkan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 4,91 triliun hingga akhir 2019, naik 18% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 4,17 triliun. Kenaikan laba ditopang oleh penjualan yang mencapai Rp 76,59 triliun, naik 4% dibandingkan akhir 2018 sekitar Rp 73,39 triliun. Pencapaian kinerja ini menunjukkan ketangguhan perseroan sebagai perusahaan yang tetap memberikan pertumbuhan positif, di tengah penurunan harga komoditas. Adapun laba usaha tercatat naik 8% dari Rp 9,14 triliun, menjadi Rp 9,83 triliun pada akhir 2019.
Rekomendas : Netral
MARK : Perseroan berencana melakukan pembelian kembali (buyback) senilai sebanyak-banyaknya Rp 15 miliar. Perseroan menunjuk PT Panin Sekuritas Tbk untuk melakukan buyback saham perseroan. Adapun buyback akan dilakukan melalui Bursa Efek Indonesia pada periode 23 Maret 2020 hingga 23 Juni 2020
Rekomendasi : Netral

Tentang Kami
Tata kelola










