Morning Note 19 Oktober 2020
IHSG di perdagangan akhir pekan kemarin di tutup turun 1,74 poin atau melemah -0,03% setelah bergerak mayoritas melemah sepanjang sesi perdagangan. Sebanyak 228 saham di tutup turun, 179 saham di tutup naik dan 166 saham di tutup stagnan. Secara sektoral, sebanyak 3 sektor di tutup melemah dengan pelemahan terbesar di pimpin oleh sektor Keuangan di susul oleh sektor Perdagangan yang melemah masing – masing -0,67% dan -0,46%. Penurunan IHSG masih di pengaruhi oleh aksi profit taking yang masih berlanjut setelah IHSG terbang 8 hari beruntun. Selain itu para pelaku pasar juga mulai pesimis setelah bursa acuan global di Wall Street terkoreksi pada perdagangan sebelumnya dan peningkatan kasus corona di AS dan Benua Biru. Dari AS, rilis data ketenagakerjaan terbaru di AS mengecewakan. Klaim tunjangan pengangguran pada pekan yang berakhir 10 Oktober tercatat 898.000, naik dibandingkan pekan sebelumnya yaitu 845.000. Juga lebih tinggi ketimbang konsensus pasar yang dihimpun Rdengan perkiraan 825.000. Data ekonomi lain juga membuat investor kecewa. Angka pembacaan awal indeks kondisi bisnis keluaran Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) cabang New York periode Oktober 2020 adalah sebesar 32,8. Turun dibandingkan bulan sebelumnya yakni 40,3. Investor asing mencatatkan aksi jual di pasar reguler sebesar Rp 506 miliar dengan saham – saham yang paling banyak di jual yakni TLKM, BBCA, BBRI, BMRI, ADRO .
Indeks saham di bursa Wall Street di perdagangan akhir pekan kemarin ditutup bervariasi. Indeks Dow dan Indeks S&P ditutup menguat masing-masing 0,39% dan 0,01%. Sementara Indeks Nasdaq ditutup melemah -0,36%. Menguatnya indeks Dow dan indeks S&P tersebut ditopang oleh kejelasan kelanjutan timeline pengembangan vaksin virus Corona dan penjualan ritel yang jauh lebih baik dari perkiraan dibulan September 2020. Namun indeks Nasdaq masih mengalami tekanan dan ditutup terkoreksi. Saham Pfizer Inc menguat 3,83% setelah perusahaan mengatakan akan meminta izin penggunaan darurat untuk vaksin Covid-19 pada akhir November 2020 apabila terbukti efektif. Sementara dari sisi data ekonomi AS terbaru, penjualan ritel AS periode September 2020 tercatat naik 1,9% (lebih baik dari perkiraan yang sebesar 1,9% yang menandakan rebound belanja konsumen pada Q3-2020 seiring dengan semakin meningkatnya tantangan. Sedangkan dari pembahasan stimulus, ketua DPR AS, Nancy Pelosi, mengatakan kepada Partai Demokrat AS, bahwa masih ada perbedaan pendapat dengan pihak Gedung Putih atas sejumlah komponen stimulus fiskal yang sedang di negosiasikan. Sementara itu, penasihat ekonomi Presiden Donald Trump, Larry Kudlow mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Fox Business Network, akan sulit bagi anggota parlemen untuk mengesahkan paket bantuan sebelum pemilihan Presiden AS pada 3 November 2020 mendatang. Hal tersebut juga dipertegas oleh pemimpin Partai Republik AS, Kevin McCarthy yang mengatakan bahwa pihaknya tidak mengharapkan kesepakatan stimulus akan tercapai menjelang Pilpres 3 November selama Nancy Pelosi masih terlibat dalam negosiasi.
Dari kawasan regional pagi ini, Indeks Nikkei dibuka menguat 0,57% yang didukung oleh aksi berburu saham-saham yang dipandang murah oleh investor sembari mencermati perkembangan terbaru pembahasan paket stimulus di AS dan situasi penyebaran virus Corona gelombang kedua secara global.
Untuk perdagangan di bursa domestik hari ini, IHSG diperkirakan akan bergerak sideways dengan kecenderungan masih berpotensi rawan tekanan. IHSG diperdagangan hari ini di perkirakan akan bergerak dalam range 5075/5048 – 5123/5143.
Indeks saham di bursa Wall Street di perdagangan akhir pekan kemarin ditutup bervariasi. Indeks Dow dan Indeks S&P ditutup menguat masing-masing 0,39% dan 0,01%. Sementara Indeks Nasdaq ditutup melemah -0,36%. Menguatnya indeks Dow dan indeks S&P tersebut ditopang oleh kejelasan kelanjutan timeline pengembangan vaksin virus Corona dan penjualan ritel yang jauh lebih baik dari perkiraan dibulan September 2020. Namun indeks Nasdaq masih mengalami tekanan dan ditutup terkoreksi. Saham Pfizer Inc menguat 3,83% setelah perusahaan mengatakan akan meminta izin penggunaan darurat untuk vaksin Covid-19 pada akhir November 2020 apabila terbukti efektif. Sementara dari sisi data ekonomi AS terbaru, penjualan ritel AS periode September 2020 tercatat naik 1,9% (lebih baik dari perkiraan yang sebesar 1,9% yang menandakan rebound belanja konsumen pada Q3-2020 seiring dengan semakin meningkatnya tantangan. Sedangkan dari pembahasan stimulus, ketua DPR AS, Nancy Pelosi, mengatakan kepada Partai Demokrat AS, bahwa masih ada perbedaan pendapat dengan pihak Gedung Putih atas sejumlah komponen stimulus fiskal yang sedang di negosiasikan. Sementara itu, penasihat ekonomi Presiden Donald Trump, Larry Kudlow mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Fox Business Network, akan sulit bagi anggota parlemen untuk mengesahkan paket bantuan sebelum pemilihan Presiden AS pada 3 November 2020 mendatang. Hal tersebut juga dipertegas oleh pemimpin Partai Republik AS, Kevin McCarthy yang mengatakan bahwa pihaknya tidak mengharapkan kesepakatan stimulus akan tercapai menjelang Pilpres 3 November selama Nancy Pelosi masih terlibat dalam negosiasi.
Dari kawasan regional pagi ini, Indeks Nikkei dibuka menguat 0,57% yang didukung oleh aksi berburu saham-saham yang dipandang murah oleh investor sembari mencermati perkembangan terbaru pembahasan paket stimulus di AS dan situasi penyebaran virus Corona gelombang kedua secara global.
Untuk perdagangan di bursa domestik hari ini, IHSG diperkirakan akan bergerak sideways dengan kecenderungan masih berpotensi rawan tekanan. IHSG diperdagangan hari ini di perkirakan akan bergerak dalam range 5075/5048 – 5123/5143.
Cermati :
BBNI, EXCL, INDF, MEDC, TLKM
SCMA : Perseroan menambah alokasi biaya untuk pembelian kembali saham perseroan menjadi Rp1,3 triliun. Rencana buyback Perseroan sudah dieksekusi sejak 9 September 2020 dan direncanakan berakhir pada 8 Desember 2020. Sebelumnya, pada 10 September 2020, perseroan mengumumkan biaya pembelian kembali saham direncanakan sebanyak-banyaknya Rp500 miliar yang berasal dari kas internal. Jumlah ini tidak termasuk biaya transaksi, biaya perantara pedagang efek, dan biaya lainnya sehubungan dengan buyback.
Rekomendasi : Netral
BSDE : Perseroan mencatatkan pendapatan prapenjualan senilai Rp4,7 triliun pada periode sembilan bulan pertama tahun ini. Pencapaian tersebut setara dengan 65 persen dari target prapenjualan yang ditetapkan perseroan tahun ini senilai Rp7,2 triliun. Segmen komersial mencatatkan marketing sales paling tinggi sebesar Rp1,6 triliun atau 34 persen dari total pendapatan prapenjualan pada periode Januari - September 2020.
Rekomendasi : Netral
WSKT : Perseroan membukukan perolehan kontrak baru senilai Rp12,2 triliun per September 2020. Pencapaian tersebut sebagian besar berasal dari proyek-proyek infrastruktur konektivitas dan pengairan. Perseroan juga optimistis mampu mencapai target kontrak baru senilai Rp26 triliun - Rp27 triliun pada tahun ini. Selain berusaha mengejar target, perseroan juga fokus melakukan berbagai strategi untuk memperkuat kemampuan keuangan perseroan dengan melakukan percepatan koleksi piutang termin proyek, optimalisasi belanja modal, efisiensi beban usaha, serta pelepasan ruas jalan tol.
Rekomendasi : Netral
SAME : Perseroan berencana melakukan penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue dengan menerbitkan sebanyak-banyaknya 10,3 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp 20 per saham. Perseroan berencana menggunakan dana yang dihimpun lewat rights issue untuk ekspansi dan investasi usaha. Salah satunya melalui pengambilalihan perusahaan yang terkait dengan kegiatan usaha rumah sakit yaitu PT Elang Medika Corpora.
Rekomendasi : Netral
BUMI : Perseroan kembali melakukan pembayaran bunga pinjaman tranche A yang kesebelas senilai US$ 3,8 juta. Dengan pembayaran ini, perseroan sudah membayar total pinjaman sebesar US$ 331,6 juta. Total pembayaran senilai US$ 331,6 juta terdiri atas pokok tranche A senilai US$ 195,8 juta dan bunga sebesar US$ 135,8 juta.
Rekomendasi : Netral

Tentang Kami
Tata kelola










