Morning Note 9 November 2020
IHSG di perdagangan akhir pekan kemarin di tutup naik 75,20 poin atau menguat 1,43% setelah bergerak mayoritas menguat di sepanjang sesi perdagangan. Sebanyak 263 saham di tutup naik, 161 saham di tutup turun dan 188 saham ditutup stagnan. Secara sektoral, seluruh sektor menopang penguatan IHSG dengan penguatan terbesar di pimpin oleh sektor Aneka Industri di susul oleh sektor Infrastruktur yang di tutup masing – masing menguat 4,55% dan 1,49%. Bank Indonesia merilis data cadangan devisa (cadev) Indonesia pada periode Oktober 2020. BI menunjukkan per 31 Oktober, cadev Indonesia sebesar US$ 133,7 miliar, turun US$ 1,5 miliar dibandingkan posisi akhir September. Cadev Indonesia menurun selama 2 bulan beruntun, menjauhi rekor tertinggi sepanjang masa yang dicapai pada Agustus lalu, di mana pada bulan September, cadev juga mengalami penurunan US$ 1,8 miliar dari bulan Agustus US$ 137 miliar. Penyebab penurunan dalam 2 bulan beruntun tersebut sama, yakni pembayaran utang luar negeri. Seandainya tidak membayar utang, ada kemungkinan posisi cadev meningkat, sebab kebutuhan untuk intervensi rupiah minim. Sementara itu, Pelaku pasar global juga masih memantau penghitungan suara hasil pilpres AS, di mana Biden terus menempel ketat perolehan suara calon presiden petahana Donald Trump di dua negara bagian kunci, yakni Georgia dan Pennsylvania.Investor asing mencatatkan aksi beli di pasar reguler sebesar Rp 894 miliar dengan saham – saham yang paling banyak di beli yakni BBCA, BBRI, TLKM, BBNI, ASII.
Indeks saham di bursa Wall Street di perdagangan akhir pekan kemarin mengakhiri relinya dan ditutup bervariasi terbatas. Indeks Dow dan Indeks Nasdaq ditutup melemah masing-masing -0,24% dan -0,03%. Sementara indeks Nasdaq ditutup menguat 0,04%. Pergerakan indeks tersebut masih dipengaruhi oleh Pilpres AS dimana Calon Presiden AS dari Partai Demokrat, Joe Biden, semakin dekat kemenangan, yang mana sentimen tersebut dibayangi oleh aksi profit taking serta laporan ketenagakerjaan AS yang menunjukkan bahwa masih ada rintangan yang dihadapi oleh perekonomian AS sekalipun Presiden berganti. Dari sisi Pilpres AS, Joe Biden unggul tipis di Pennsylvania dan Georgia, yang menempatkan Biden di ambang kemenangan meskipun Presiden Donald Trump telah mengajukan tuntutan hukum di beberapa negara bagian. Sedangkan kontrol atas Senat AS masih bergantung pada empat hasil pemungutan suara yangg belum diputuskan. Apabila Partai Republik masih dapat mempertahankan mayoritasnya di Senat AS, maka kemungkinan akan memblokir sebagian besar agenda legislatif Joe Biden, termasuk memperluas perawatan kesehatan dan memerangi perubahan iklim. Sentimen lainnya yang mempengaruhi datang dari rilis data utama ketenagakerjaan AS periode Oktober 2020 yang menunjukkan bahwa Unemployment Rate tercatat turun dari 7,9% ke 6,9% dan Non Farm Payrolls tercatat turun dari 672.000 ke 638.000. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemulihan lapangan kerja melambat yang disebabkan oleh berkurangnya dukungan fiskal dan melonjaknya kasus infeksi Corona. Dan setelah rilis data ketenagakerjaan tersebut, pemimpin mayoritas Senat AS, Mitch McConnell mengatakan bahwa statistik ekonomi mengindikasikan bahwa Kongres AS harus memberlakukan paket stimulus Corona yang lebih kecil dari yang ditargetkan.
Dari kawasan regional pagi ini, Indeks Nikkei dibuka menguat 1,00% yang turut dipengaruhi oleh hasil Pemilihan Presiden AS yang dimenangkan oleh Joe Biden setelah melalui perhitungan suara yang ketat.
Untuk perdagangan di bursa domestik hari ini, IHSG diperkirakan akan bergerak positif seiring dengan sentimen terpilihanya Joe Biden sebagai Presiden AS. IHSG di perdagangan hari ini di perkirakan akan bergerak dalam range 5276/5217 – 5365/5395.
Indeks saham di bursa Wall Street di perdagangan akhir pekan kemarin mengakhiri relinya dan ditutup bervariasi terbatas. Indeks Dow dan Indeks Nasdaq ditutup melemah masing-masing -0,24% dan -0,03%. Sementara indeks Nasdaq ditutup menguat 0,04%. Pergerakan indeks tersebut masih dipengaruhi oleh Pilpres AS dimana Calon Presiden AS dari Partai Demokrat, Joe Biden, semakin dekat kemenangan, yang mana sentimen tersebut dibayangi oleh aksi profit taking serta laporan ketenagakerjaan AS yang menunjukkan bahwa masih ada rintangan yang dihadapi oleh perekonomian AS sekalipun Presiden berganti. Dari sisi Pilpres AS, Joe Biden unggul tipis di Pennsylvania dan Georgia, yang menempatkan Biden di ambang kemenangan meskipun Presiden Donald Trump telah mengajukan tuntutan hukum di beberapa negara bagian. Sedangkan kontrol atas Senat AS masih bergantung pada empat hasil pemungutan suara yangg belum diputuskan. Apabila Partai Republik masih dapat mempertahankan mayoritasnya di Senat AS, maka kemungkinan akan memblokir sebagian besar agenda legislatif Joe Biden, termasuk memperluas perawatan kesehatan dan memerangi perubahan iklim. Sentimen lainnya yang mempengaruhi datang dari rilis data utama ketenagakerjaan AS periode Oktober 2020 yang menunjukkan bahwa Unemployment Rate tercatat turun dari 7,9% ke 6,9% dan Non Farm Payrolls tercatat turun dari 672.000 ke 638.000. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemulihan lapangan kerja melambat yang disebabkan oleh berkurangnya dukungan fiskal dan melonjaknya kasus infeksi Corona. Dan setelah rilis data ketenagakerjaan tersebut, pemimpin mayoritas Senat AS, Mitch McConnell mengatakan bahwa statistik ekonomi mengindikasikan bahwa Kongres AS harus memberlakukan paket stimulus Corona yang lebih kecil dari yang ditargetkan.
Dari kawasan regional pagi ini, Indeks Nikkei dibuka menguat 1,00% yang turut dipengaruhi oleh hasil Pemilihan Presiden AS yang dimenangkan oleh Joe Biden setelah melalui perhitungan suara yang ketat.
Untuk perdagangan di bursa domestik hari ini, IHSG diperkirakan akan bergerak positif seiring dengan sentimen terpilihanya Joe Biden sebagai Presiden AS. IHSG di perdagangan hari ini di perkirakan akan bergerak dalam range 5276/5217 – 5365/5395.
Cermati :
BBRI, INDF, TLKM, PTBA, ADRO
TOTL : Perseroan membukukan nilai kontrak baru sekitar Rp597 miliar per September 2020. Nilai kontrak baru tersebut melampaui target minimum Rp500 miliar yang dipasang perseroan untuk tahun ini. Awalnya, perseroan menetapkan target raihan kontrak baru senilai Rp3 triliun. Namun, direvisi menjadi Rp500 miliar-Rp3 triliun seiring dengan perkembangan pandemi Covid-19 yang memengaruhi aktivitas bisnis perseroan.
Rekomendasi : Netral
DEWA : Perseroan membukukan pendapatan sebesar US$169,11 juta pada semester I/2020 di tengah pandemi Covid-19. Raihan tersebut berhasil tumbuh 30,51 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar US$129,58 juta. Raihan pendapatan itu dikontribusi oleh sektor batu bara yang masih menjadi fokus utama bisnis perseroan saat ini. Seluruh tambang yang dikelola perseroan mencatatkan kenaikan pendapatan.
Rekomendasi : Netral
GIAA : Berdasarkan laporan keuangan kuartal III/2020, perseroan mengalami rugi bersih sebesar US$1,07 miliar atau Rp16,03 triliun. Posisi tersebut berbanding terbalik dibandingkan catatan pada kuartal III/2019 saat GIAA meraup laba bersih US$122,42 juta. Penyebab utama penurunan itu adalah anjloknya pendapatan dari penerbangan berjadwal yang menjadi sumber utama pendapatan perseroan.
Rekomendasi : Netral
ADHI : Perseroan menargetkan penawaran umum perdana saham anak usahanya, PT Adhi Commuter Properti (ACP), pada Juni 2021. Target dana IPO tersebut Rp 1,5 triliun. Dana hasil IPO saham akan digunakan untuk membiayai proyek-proyek yang sedang dikerjakan ACP. Untuk menambah dana ekspansi tersebut, Adhi Karya melalui anak usahanya juga akan menerbitkan medium term notes (MTN) sebesar Rp 500 miliar tahun ini.
Rekomendasi : Netral
GOOD : Perseroan membukukan penurunan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas sebanyak 28,80% menjadi Rp 211,94 miliar pada akhir September 2020, dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 297,67 miliar. Penurunan dipicu atas pelemahan penjualan beberapa sektor. Terkoreksinya laba sejalan dengan penurunan penjualan segmen pihak berelasi-ekspor baik dan pihak berelasi ketiga yang masing-masing 22,27% menjadi Rp 32.08 miliar dan 7,66% Rp 270,51 miliar menjadi Rp 249,78 miliar.
Rekomendasi : Netral

Tentang Kami
Tata kelola










