News :
Perhatian PT. EQUITY SEKURITAS INDONESIA Terdaftar dan Diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) | Kami beritahukan bahwa telah dilakukan update pada Aplikasi Online ESI-ON ke ver. 1.0.0.57 | Apabila terjadi Error pada aplikasi Online anda silahkan hubungi Admin Online Trading, dengan Bapak Ronny (021) 8063-2800 Ext. 804 |

Morning Note 30 April 2020

 IHSG di perdagangan kemarin di tutup naik 37.77 poin atau menguat 0,83% setelah bergerak di zona positif sepanjang sesi perdagangan. Sebanyak 202 saham di tutup naik, 183 saham di tutup turun dan 15 saham di tutup stagnan. Secara sektoral, 6 sektor menopang penguatan IHSG dengan penguatan terbesar di pimpin oleh sektor Infrastruktur di susul oleh sektor Industri Dasar yang di tutup masing - masing menguat 3,72% dan 2,79%. Kinerja IHSG sejalan dengan kinerja bursa kawasan asia yang kompak di tutup di zona hijau. Saat ini para investor sedang memonitor penyebaran virus corona dan langkah yang diambil pemerintah berbagai negara dalam membuka kembali aktivitas perekonomian mereka. Pasar saat ini juga tengah menantikan keputusan rapat kebijakan moneter bank sentral Federal Reserve AS dan Bank Sentral Eropa (ECB). Dalam pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC meeting) , Gubernur The Fed Jerome Powell diperkirakan akan menghadapi keputusan besar untuk memberikan panduan lebih lanjut tentang arah suku bunga di masa depan.  Disisi lain asing masih mencatatkan aksi jualnyadi pasar reguler mencapai Rp 284 miliar dengan saham - saham yang paling banyak di jual yakni BMRI, BBRI, ASII, MNCN, BTPS.
 
Indeks saham di bursa Wall Street di perdagangan tadi malam ditutup menguat signifikan. Indeks Dow ditutup menguat 2,21%, Indeks Nasdaq menguat 3,57% dan Indeks S&P menguat 2,66%. Menguatnya indeks tersebut dipengaruhi oleh ekspektasi terhadap obat Covid-19 yang efektif. Adanya ekspektasi tersebut setelah Gilead Sciences mengatakan bahwa obat antivirus Corona eksperimentalnya, memenuhi tujuan utama uji coba pada pasien Covid-19 dan membantu penderita penyakit Corona pulih lebih cepat. Adanya kabar dan ekspektasi tersebut mendorong investor mengabaikan buruknya pertumbuhan ekonomi AS dan adanya peringatan dari The Fed AS. Departemen Perdagangan AS melaporkan bahwa Produk Domesfik Bruto (PDB/GDP) AS berkontraksi 4,8% secara tahunan pada Q1-2020. Kontraksi tersebut merupakan kontraksi pertama sejak 2014 dan penurunan perekonomian paling dalam sejak Q4-2008 ataupun pada masa Great Recession. Belanja kesehatan merosot dikarenakan penutupan praktek berbagai dokter spesialis dan rumah sakit yang fokus menangani pasien Corona. Belanja rumah tangga AS pun merosot dengan penurunan tajam pada pembelian kendaraan, furnitur, pakaian dan sepatu. Bisnis jasa seperti transportasi, akomodasi hotel dan restoran pun anjlok. Kontraksi ekonomi tersebut lebih dalam dibanding prediksi para ekonom yang di survei oleh Reuters, yang meramalkan penurunan 4%. Angka kontraksi tersebut pun kontras dari pertumbuhan ekonomi 2,1% di Q4-2019, yang menutup 11 tahun pertumbuhan ekonomi, rekor pertumbuhan ekonomi terpanjang AS. Para ekonom pun memperkirakan ekonomi AS akan kontraksi lebih dalam di Q2-2020 sehingga mendorong AS masuk ke resesi yakni penurunan ekonomi dua kuartal beruntun. Bahkan estimasi para ekonom adalah penurunan PDB hingga 40%. Belanja konsumen yang mengontribusi lebih dari dua pertiga ekonomi AS merosot 7,6% di Q1-2020 yang merupakan penurunan terbesar sejak Q2-1980. Di sisi lain, The Fed AS mempertahankan kebijakan suku bunga 0%-0,25% dimana ketua The Fed AS, Jerome Powell menegaskan akan menggunakan seluruh perangkat kebijakan untuk menopang ekonomi yang sekarang dianggap cukup berisiko dalam jangka menengah sekitar satu tahun atau lebih. The Fed juga menyebutkan bahwa krisis kesehatan akan menekan aktivitas ekonomi, ketenagakerjaan dan inflasi di jangka pendek serta menimbulkan risiko yang cukup besar bagi outlook ekonomi dalam jangka menengah. Di sisi lain, negara-negara di seluruh dunia tengah mendiskusikan cara memulai kembali aktivitas perekonomian, namun sejumlah negara yang terdampak keras seperti Spanyol mengatakan membutuhkan setidaknya delapan pekan lagi untuk sepenuhnya mencabut pembatasan.
 
Dari kawasan regional pagi ini, Indeks Nikkei dibuka menguat 1,63% mengikuti penguatan indeks di bursa Wall Street tadi malam seiring dengan ekspektasi dan optimisme terkait kabar hasil uji coba positif dari obat yang akan digunakan untuk mengobati virus Corona. Optimisme tersebut juga turut mendorong pergerakan positif indeks di bursa kawasan regional dan global.
 
Untuk perdagangan di bursa domestik hari ini, IHSG diperkirakan berpotensi bergerak positif mengikuti pergerakan positif pasar saham global seiring dengan optimisme ditemukannya obat virus Corona. IHSG hari ini di perkirakan akan bergerak dalam range 4538/4509 - 4583/4598.

Cermati :
TLKM, PTBA, ASII, UNVR, SMGR
 

Morning Note 6 Mei 2020

IHSG di perdagangan kemarin di tutup naik 24.65 poin atau menguat 0,54% setelah bergerak positif sepanjang sesi perdagangan. Sebanyak  221 sahm di tutup naik, 177 saham di tutup turun dan 147 saham di tutup stganan. Secara sektoral, sebanyak 8 sektor di tutup menguat dengan penguatan terbesar di pimpin oleh sektor Property di susul oleh sektor Consumer yang di tutup masing - masing menguat 2,19% dan 1,82%. Kinerja IHSG sejalan dengan kinerja bursa kawasan asia yang mayoritas di tutup di zona hijau. Bursa saham Asia menguat pada perdagangan kemarin mengikuti reli bursa sahan AS seiring dengan pelonggaran kebijakan lockdown di sejumlah negara. Saham global masih fluktuatif karena perselisihan AS-Tiongkok kembali berkobar. Sementara itu, investor masih memiliki kekhawatiran adanya gelombang kedua infeksi dan aliran data ekonomi yang buruk terhadap berbagai upaya oleh banyak negara untuk mulai melonggarkan pembatasan aktivitas. Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik mengumumkan ekonomi Indonesia pada kuartal I tahun 2020 tumbuh melambat sebesar 2,97 persen year on year. Pertumbuhan kuartalan itu merupakan yang terendah sejak kuartal IV tahun 2000. Disisi lain, Asing masih mencatatkan aksi jual di pasar reguler mecapai Rp 389 miliar dengan saham - saham yang paling banyak di jual yakni BBRI, ASII, BBNI, PGAS, BMRI.
 
Indeks saham di bursa Wall Street di perdagangan tadi malam masih melanjutkan penguatannya. Indeks Dow ditutup menguat 0,56%, Indeks Nasdaq menguat 1,13% dan Indeks S&P menguat 0,90%. Menguatnya indeks tersebut dipengaruhi oleh pelonggaran pembatasan (lockdown) di sejumlah negara dunia dan beberapa negara-negara bagian AS yang mengisyaratkan meredanya pandemi Corona dan upaya untuk menghidupkan kembali aktivitas ekonomi. Italia dikabarkan mulai membuka kembali aktivitas perekonomiannya, Spanyol yang juga memulai melonggarkan pembatasannya dan negara bagian AS California dan Arizona yang mengambil langkah-langkah untuk memulai aktivitas perekonomian. Kenaikan indeks Wall Street juga ditopang oleh kenaikan saham sektor kesehatan seiring perkembangan upaya mengendalikan virus Corona dari Pfizer dan Regeneron Pharmaceuticals. Saham Pfizer naik 2,37% setelah mengatakan bahwa bersama dengan mitranya di Jerman mulai memberikan dosis vaksin Corona eksperimental untuk pengujian manusia. Sementara saham Regeneron naik 6,01% setelah mengatakan antibodi eksperimental Covid-19 kemungkinan tersedia pada akhir musim panas. Saham-saham berbasis teknologi juga turut memberikan dorongan pada indeks seperti saham Microsoft naik 1,07% dan saham Apple yang naik 1,50%. Kini investor tengah mengamati upaya sejumlah negara yang sedang mencoba menghidupkan kembali ekonominya dengan melonggarkan pembatasan yang diberlakukan untuk memerangi wabah Corona. Sedangkan dari sisi data ekonomi AS yang dirilis tadi malam, menunjukkan sektor jasa AS secara umum jatuh ke dalam kontraksi pada April 2020 untuk pertama kalinya dalam 10,5 tahun. Dan investor sedang bersiap menantikan data utama ketenagakerjaan AS yang akan dirilis pada akhir pekan ini. Investor juga mencermati pernyataan wakil Ketua The Fed AS, Richard Clarida yang memperingatkan bahwa perekonomian AS akan membutuhkan lebih banyak dukungan pemerintah.
 
Dari kawasan regional, minus sejumlah bursa yang sedang libur seperti bursa Jepang dan Tiongkok, pergerakan indeks di bursa kawasan regional diperkirakan positif seiring dengan kabar akan dilakukan sejumlah uji coba vaksin virus Corona dan pelonggaran lockdown di sejumlah negara dunia untuk memulai aktivitas perekonomian.
 
Untuk perdagangan di bursa domestik hari ini, IHSG diperkirakan akan bergerak sideways dengan kecenderungan berpotensi melanjutkan penguatannya secara terbatas. IHSG hari ini di perkirakan akan bergerak dalam range 4601/4572 - 4663/4697.

Cermati :
ASII, CTRA, INDF, JPFA, MNCN, WIKA
 

Morning Note 14 Mei 2020

IHSG di perdagangan kemarin di tutup turun -34.38 poin atau melemah -0,75% setelah bergerak melemah sepanjang sesi perdagangan. Sebanyak 246 saham di tutup turun, 142 saham di tutup naik dan 149 saham di tutup stagnan. Secara sektoral, sebanyak 8 sektor di tutup melemah dengan pelemahan terbesar di pimpin oleh sektor Industri Dasar di susul oleh sektor Aneka Industri yang di tutup masing - masing -2,95% dan -1,41%. Sentimen utama yang menekan IHSG adalah kekhawatiran pelaku pasar terkait rencana pemerintah untuk mulai melonggarkan aturan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dimana perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia yang masih dalam tren naik namun pemerintah sudah berwacana melonggarkan aturan PSBB sehingga dikhawatirkan Covid-19 jadi lebih lama selesai. Di sisi lain, dari global sentimen tak jauh berbeda juga turut menekan pasar yang mana kabar kemunculan kasus-kasus baru di negara yang sudah melonggarkan lockdown seperti China dan Korea membuat investor khawatir akan potensi pandemi gelombang kedua. Selain itu, pengumuman konstituen baru indeks MSCI Indonesia oleh Morgan Stanley menunjukan banyaknya saham yang dikeluarkan dari indeks MSCI yang mengisyaratkan semakin sedikit saham Indonesia yang masuk dalam standar investasi investor asing. Investor asing masih mencatatkan aksi jual di pasar reguler mencapai Rp796 miliar dengan saham - saham yang paling banyak di jual yakni BBRI, BBCA, BMRI, JSMR, ASII.
 
Indeks saham di bursa Wall Street di perdagangan tadi malam masih melanjutkan pelemahannya. Indeks Dow ditutup melemah -2,17%, Indeks Nasdaq melemah -1,55% dan Indeks S&P melemah -1,75%. Melemahnya indeks tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor dimana salah satunya datang dari pernyataan ketua The Fed AS, Jerome Powell. Powell memperingatkan pelemahan ekonomi yang lebih dalam akibat pandemi virus Corona dapat terjadi di AS apabila Kongres AS tidak menyetujui dukungan fiskal tambahan. Powell juga menyampaikan bahwa The Fed AS sudah melakukan segala upaya guna mendukung perekonomian AS. Namun Powell juga menegaskan hal tersebut mungkin tidak cukup untuk menghindari kerusakan ekonomi yang lebih dalam tanpa dukungan fiskal yang lebih besar untuk menghindari kerusakan ekonomi jangka panjang dan membawa ke pemulihan yang lebih kuat. Powell juga mengindikasikan bahwa The Fed tidak akan mendorong suku bunga di bawah nol. Akan tetapi adanya ketegangan baru antara Partai Republik AS dan Partai Demokrat AS, tampaknya telah meredupkan prospek untuk dukungan fiskal tambahan dari Kongres AS. Faktor negatif penekan indeks lainnya datang dari keputusan oleh dewan independen yang mengawasi dana miliaran Dollar AS untuk menunda rencana investasi di beberapa perusahaan Tiongkok dimana hal tersebut berpotensi menambah ketegangan menjelang pengumuman yang dikatakan Presiden Trump yang akan datang minggu ini terkait kesepakatan dagang AS-Tiongkok fase I. Di sisi lain, sejumalh negara dunia dan beberapa negara bagian AS mulai melonggarkan aturan lockdown dengan tujuan memulai kembali aktivitas ekonomi, telah memunculkan kekhawatiran akan terjadinya gelombang kedua infeksi virus Corona. Dari sisi perdagangan saham, saham sektor energi turun 4,4%. Sementara saham sektor perbankan juga turun 4,4% mengikuti penurunan dalam imbal hasil obligasi AS.
 
Dari kawasan regional pagi ini, Indeks Nikkei dibuka melemah -0,62% yang turut dipengaruhi oleh koreksi di bursa Wall Street serta juga sikap investor yang mencermati perkiraan bahwa pemerintah Jepang akan melonggarkan status darurat di sejumlah bagian negara Jepang.
 
Untuk perdagangan di bursa domestik hari ini, IHSG diperkirakan masih berpotensi rawan akan tekanan seiring dengan maraknya sentimen negatif eksternal seperti kekhawatiran gelombang kedua infeksi virus Corona dan pernyataan ketua The Fed AS yang memperingatkan pelemahan ekonomi yang dalam dan memerlukan pemulihan yang lama apabila tidak ada dukungan fiskal yang lebih besar. IHSG hari ini di perkirakan akan bergerak dalam range 4521/4487 - 4587/4620.

Cermati :
ASII, EXCL, GGRM, INDF, MNCN
 

Morning Note 20 Mei 2020

IHSG di perdagangan kemarin di tutup naik 37,6 poin atau menguat 0,83% setelah bergerak menguat sepanjang sesi perdagangan. Sebanyak 237 saham di tutup naik, 162 saham di tutup turun dan 157 saham di tutup stagnan. Secara sektoral, sebanyak 7 sektor menopang penguatan IHSG dengan penguatan terbesar di pimpin oleh sektor Properti di susul oleh sektor keuangan yang di tutup masing - masing 2,04% dan 1,95%. Kinerja IHSG sejalan dengan kinerja bursa kawasan asia yang kompak di tutup di zona hijau. Bursa Asia menguat pada perdagangan kemarin didorong oleh lonjakan di bursa Wall Street. Kabar keberhasilan uji coba tahap awal vaksin corona yang diproduksi oleh Moderna Inc. membuat optimisme para pelaku pasar kembali bangkit terutama sektor finansial. Dengan adanya vaksin ini maka peluang untuk pandemi lebih cepat berakhir akan semakin terbuka, yang artinya ekonomi akan pulih lebih cepat. Selain itu, dari domestik  sentimen yang direspons pasar dengan baik yakni penyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani terkait skema penempatan dana pemerintah di perbankan untuk membantu restrukturisasi kredit atau skema bank jangkar. Namun penguatan IHSG tertahan setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan sebesar 4,5% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2020. Langkah ini ditempuh dengan mempertimbangkan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian pasar keuangan global. Asing masih mencatatkan aksi jual di pasar reguer mencapai Rp 112 miliar dengan saham - saham yang paling banyak di jual yakni BBCA, BMRI, TKIM, JSMR, GGRM.
 
Indeks saham di bursa Wall Street di perdagangan tadi malam ditutup terkoreksi. Indeks Dow ditutup terkoreksi -1,59%, Indeks Nasdaq terkoreksi -0,54% dan Indeks S&P terkoreksi -1,05%. Melemahnya indeks tadi malam menyusul adanya laporan bahwa studi vaksin Moderna Inc belum menjadi data penting pendukung keberhasilan pengembangan vaksin virus Corona. Indeks sempat bergerak positif yang masih ditopang oleh berita bahwa Moderna Inc mendorong ekspektasi positif mengenai pengembangan vaksin virus Corona, sementara investor berupaya untuk mempertahankan momentum dikarenakan investor terus memantau upaya sejumlah negara menekan penyebaran pandemi Corona sambil memulai kembali aktivitas ekonomi. Namun optimisme investor kemudian memudar dan mendorong indeks bergerak turun hingga akhirnya ditutup terkoreksi setelah adanya laporan dari STAT News mempertanyakan validitas hasil uji coba vaksin virus Corona Moderna dan melaporkan bahwa Moderna menahan informasi penting mengenai uji vaksin virus Corona  perusahaan. Stat mengutip kurangnya siaran pers dari Institut Nasional untuk Alergi dan Penyakit Menular, yang menjadi mitra Moderna dalam pengembangan vaksin dan mengatakan Moderna tidak merilis informasi yang diperlukan untuk menginterprestasikan datanya. Saham Moderna kemudian anjlok -10,41% akibat dari laporan Stat tersebut. Selain anjloknya saham Moderna, saham peritel dan perbankan tadi malam turut menekan pergerakan indeks. Saham Home Depot turun 2,95% setelah melpokrna laba kuartalannya turun 10,7% akibat biaya tambahan terkait pandemi Corona. Melemahnya saham Home Depot tersebut kemudian diikuti oleh pelemahan saham peritel lainnya seperti Walmart, Kohl, Macy dan Nordstorm. Saham sejumlah perbankan utama yang turun juga menekan pergerakan indeks. Saham-saham tersebut antara lain saham Wells Fargo yang turun 5,75%, saham Bank of America yang turun 3,14%, saham Citigroup turun 2,72% dan saham JP Morgan yang turun 1,97%. Sentimen penekan indeks lainnya datang dari terstimoni Ketua The Fed AS, Jerome Powell, di hadapan Kongres AS. Powell mengatakan bahwa prospek ekonomi yang tidak pasti membawa sentimen negatif bagi pasar. Powell juga menegaskan bahwa dukungan fiskal tambahan memang mahal, tapi akan sangat berguna untuk membantu menghindari kerusakan ekonomi jangka panjang dan membuat pemulihan yang lebih kuat. The Fed juga tidak memiliki rencana untuk menurunkan suku bunga acuannya ke teritori negatif, meskipun begitu, The Fed akan menggunakan instrumen lain yang akan dipakai semaksimal mungkin.
 
Dari kawasan regional pagi ini, Indeks Nikkei dibuka menguat 0,10% yang didukung oleh stabilnya nilai tukar Yen serta juga mengabaikan pergerakan melemah indeks di bursa Wall Street.
 
Untuk perdagangan di bursa domestik hari ini, IHSG diperkirakan akan bergerak sideways dengan kecenderungan rawan tekanan seiring pelemahan indeks di bursa Wall Street serta aksi profit taking menjelang libur panjang hari raya Idul Fitri. IHSG di perkiarakan akan bergerak dalam range 4509/4470 – 4559/4599.

Cermati :
WIKA, INTP, JPFA, PTBA, TLKM, SCMA

Morning Meeting

Morning Note 21 April 202521 Apr 2025 09:29

IHSG di perdagangan pekan kemarin ditutup naik 38.22 poin atau menguat 0,60% setelah bergerak menguat di sepanjang sesi perdagangan dalam range 6.384,29-6.438,27. Sebanyak 344 saham [ ... ]

Read more...
Morning Note 27 Maret 202527 Mar 2025 14:45

IHSG di perdagangan kemarin naik 236,74 poin atau menguat 3,80% setelah bergerak dalam range 6.235,54-6.489,15. Sebanyak 554 saham ditutup menguat, 123 saham ditutup melemah dan 281 [ ... ]

Read more...
Morning Note 26 Februari 202526 Feb 2025 15:10

IHSG di perdagangan kemarin ditutup turun 162.51 poin atau melemah signifikan –2.41% setelah bergerak melemah disepanjang perdagangan dalam range 6.576,97-6.772,65. Sebanyak [ ... ]

Read more...
  • Yuk Nabung Saham, Ayo Investasi di Reksa Dana
  • Yuk Nabung Saham
  • LAPS SJK
  • OJK
  • IDX
  • KPEI
  • KSEI
  • Akses-Ksei
  • SIPF