News :
Perhatian PT. EQUITY SEKURITAS INDONESIA Terdaftar dan Diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) | Kami beritahukan bahwa telah dilakukan update pada Aplikasi Online ESI-ON ke ver. 1.0.0.57 | Apabila terjadi Error pada aplikasi Online anda silahkan hubungi Admin Online Trading, dengan Bapak Ronny (021) 8063-2800 Ext. 804 |

Morning Note 14 April 2020

IHSG di perdagangan kemarin di tutup turun -25.18 poin atau melemah -0,54% setelah bergerak melemah sepanjang sesi perdagangan. Sebanyak 207 sham di tutup turun, 199 saham di tutup naik dan 149 saham di tutup stagnan. Secara sektoral, sebanyak 7 sektor di tutup melemah dengan pelemahan terbesar di pimpin oleh sektor Aneka Industri di susul oleh sektor Industri Dasar yang di tutup masing - masing -2,21% dan -1,21%. Kinerja IHSG sejalan dengan kinerja bursa kawasan asia yang mayoritas di tutup melemah. Pandemi COVID-19 masih menekan kinerja pasar global termasuk pasar Indonesia. Minimnya sentimen positif dari data makroekonomi domestik maupun global yang memberikan dampak besar kepada pasar menambah kekhawatiran investor. Saat ini jumlah yang terinfeksi virus corona telah mencapai 1,8 juta orang. Ditambah, tiongkok mencatat ada kasus baru setelah lockdown dibuka. Ini menandakan bahwa ada kemungkinan pandemi selesai lebih lama dari yang diperkirakan, sehingga  dampaknya terhadap ekonomi global akan semakin besar. Selain itu, para investor masih akan melihat imbas pemberlakukan kebijakan PSBB oleh pemerintah yang efektif sejak 10 april lalu,  apakah akan mampu menekan penyebaran COVID-19 dan dampaknya terhadap terhentinya aktivitas perekonomian. Asing mencatatkan aksi jual di pasar reguler mencapai Rp 327 miliar dengan saham - saham yang paling banyak di jual yakni BMRI, BBCA, ASII, KLBF, INDF.
 
Indeks saham di bursa Wall Street di perdagangan tadi malam ditutup bervariasi. Indeks Dow dan Indeks S&P ditutup terkoreksi masing-masing -1,39% dan -1,01%. Sementara Indeks Nasdaq ditutup menguat 0,48%. Bervariatifnya indeks tersebut dipengaruhi oleh sikap investor yang bersiap untuk memulai musim laporan keuangan kuartalan yang diperkirakan terkena dampak pandemi coronavirus. Hampir seluruh sektor diprediksi melaporkan kinerja buruk di Q1-2020 kecuali sektor konsumsi, kesehatan dan teknologi. Analis memperkirakan penurunan laba emiten sebesar 8,1% di Q1-2020 dibanding Q1-2091, yang mana angka tersebut lebih besar dibanding yang diperkirakan oleh IBES Refinitiv yang sebesar 6,3%. Dan apabila prediksi tersebut benar, maka penurunan laba tersebut akan menjadi penurunan yang terbesar sejak Q3-2009 dimana ketika itu laba emiten merosot 14,7% secara tahunan. Sedangkan indeks Nasdaq ditutup menguat, dipengaruhi oleh naiknya harga sama Amazon sebesar 6,17% setelah Amazon mengatakan akan mempekerjakan lebih dari 75.000 lebih banyak orang di tengah lonjakan permintaan pesanan online. Sementara saham sub sektor perbankan S&P turun 4,1% dimana JP Morgan Chase dan Wells Fargo yang akan merilis laporan keuangannya nanti malam dan analis memperkirakan prospek yang suram untuk tahun ini. Di sisi lain, komentar dari Gubernur New York, Andrew Cuomo, membantu meredakan kekhawatiran investor khususnya terhadap pandemic Corona. Cuomo mengatakan bahwa dirinya yakin “yang terburuk sudah berakhir” ketika kasus rawat inap tampaknya mencapai titik tertinggi di New York. Cuomo juga menambahkan akan mengumumkan rencana terkoordinasi untuk membuka kembali bisnis.
 
 
Dari kawasan regional pagi ini, Indeks Nikkei dibuka menguat 0,56% yang dipengaruhi oleh aksi bargain hunting setelah koreksi indeks kemarin yang sebesar -2,33%. Di sisi lain, mayoritas bursa di kawasan regional juga bergerak positif.
 
Untuk perdagangan di bursa domestik hari ini, IHSG diperkirakan berpotensi rawan akan tekanan khususnya tekanan domestik terkait peningkatan kasus corona di Indonesia, pemberlakukan PSBB di wilayah Jabodetabek dan status pandemic Corona yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai bencana nasional. IHSG hari di perkiarakan akan bergerak dalam range 4591/4558 - 4658/4692.

Cermati :
TLKM, BBRI, PTBA, WIKA, ANTM
 

Morning Note 17 April 2020

IHSG di perdagangan kemarin di tutup turun -145.30 poin atau melemah -3,14% setelah bergerak melemah sepanjang sesi perdagangan. Sebanyak 308 saham di tutup turun, 100 saham di tutup naik dan 126 saham di tutup stagnan. Secara sektoral, seluruh sektor di tutup melemah dengan pelemahan terbesar di pimpin oleh sektor Consumer di susul oleh sektor Aneka Industri yang di tutup masing - masing -3,96% dan -3,92%. Kinerja IHSG melemah mengikuti sesi pelemahan bursa Wall Street, akibat data ritel, manufaktur, dan pembangunan yang suram yang menambah kekhawatiran tentang resesi parah di AS. Penjualan ritel AS dan output manufaktur mencatat penurunan terdalam pada bulan Maret, sedangkan survei pada bulan April terlihat lebih buruk. Manufaktur di negara bagian New York dan sentimen pembangunan perumahan di AS juga anjlok. Kinerja IHSG juga sejalan dengan pelemahan harga komoditas pada perdagangan sebelumnya, khususnya minyak mentah yang mendekati level terendah dalam dua dekade. Dari dalam negeri, data penjualan mobil per Maret 2020 juga turun 15 persen year-on-year turut menambah kekhawatiran investor. Asing masih mencatatkan aksi jual di pasar reguler yang mencapai Rp 1,18 triliun dengan saham - saham yang paling banyak di jual yakni BBRI, BBCA, TLKM, UNVR, ASII.
 
Indeks saham di  bursa Wall Street di perdagangan tadi malam ditutup menguat setelah melalui sesi perdagangan yang fluktuatif. Indeks Dow ditutup menguat 0,14%, Indeks Nasdaq menguat 1,66% dan Indeks S&P menguat 0,59%. Menguatnya indeks tadi malam dipengaruhi oleh sejumlah sentimen. Sentimen tersebut yakni kekhawatiran investor terhadap dampak pandemi virus corona terhadap pendapatan emiten Q1-2020 Sentimen lainnya yang mempengaruhi datang dari perpanjangan penutupan New York hingga 15 Mei 2020 meskipun data menunjukkan bahwa jumlah pasien rawat inap yang berhubungan dengan virus Corona dan jumlah kematiannya turun ke level terendah dalam lebih dari seminggu. Sementara dari sisi rilis laporan keuangan emiten yang dimulai pada pekan ini, menunjukkan bahwa perbankan AS mengalami penurunan kinerja laba dan juga bersiap untuk menghadapi gelombang gagal bayar kredit di masa mendatang seiring dengan penghentian aktivitas bisnis. Dan analis memperkirakan pendapatan untuk emiten indeks S&P merosot 12,8% di Q1-2020, yang akan menjadi penurunan kuartalan terbesar secara tahunan sejak krisis keuangan tahun 2008. Ekonomi AS pun diprediksi mencatatkan pelemahan terburuk sejak Perang Dunia II. Sedangkan dari sisi data ekonomi AS,  data menunjukkan klaim pengangguran pada pekan lalu turun sedikit dari 6,62 juta menjadi 5,2 juta, namun secara total dalam sebulan terakhir, klaim pengangguran mencapai angka 22,5 juta dibandingkan dengan penambahan sekitar 21,5 juta pekerjaan yang dimulai pada Juni 2009. Selain itu, konstruksi rumah baru di AS (Housing Starts) dilaporkan turun 22,3% yang merupakan penurunan terbesar sejak tahun 1984. Indeks kemudian berbalik arah dan akhirnya ditutup menguat di dorong oleh naiknya harga saham Amazon dan Netflix,  yang membantu mendorong penguatan indeks Nasdaq dan indeks S&P. Saham Amazon menguat 4,36% dan saham Netflix menguat 2,91% dikarenakan perintah tetap di rumah (stay at home) mendorong permintaan untuk layanan streaming online dan pengiriman barang di rumah. Sentimen positif lainnya datang dari upaya pemerintahan Presiden Trump untuk kembali mendorong perekonomian AS. Tim pemerintahan Presiden Trump mulai merencanakan pembukaan kembali aktivitas perekonomian secara bertahap di tengah serangkaian data ekonomi yang mengecewakan dan tekanan pandemic Corona. Pedoman Federal yang dikeluarkan oleh pemerintahan Trump tadi malam merekomendasikan bahwa negara-negara bagian AS mendokumentasikan “lintasan penurunan” dalam hal kasus virus Corona dan penyakit serupa flu sebelum melonggarkan perintah tinggal di rumah. Negara-negara bagian AS kemudian dapat melanjutkan ke proses pembukaan kembali dalam tiga fase sesuai dengan pedoman tersebut.
 
Dari kawasan regional pagi ini, Indeks Nikkei dibuka menguat 1,48% yang dipengaruhi oleh menguatnya indeks di bursa Wall Street tadi malam paska sikap Pemerintah AS yang merilis pedoman panduan untuk memulai membuka kembali aktivitas perekonomian AS. Namun di sisi lain, investor di bursa Jepang dan bursa di kawasan regional juga bersikap wait & see terhadap rilis pertumbuhan ekonomi Tiongkok Q1-2020 pada hari ini untuk melihat dampak dari wabah Corona terhadap perekonomian Tiongkok.
 
Untuk perdagangan di bursa domestik hari ini, IHSG diperkirakan berpotensi rebound paska tekanan  jual kemarin, dengan didukung oleh pergerakan positif indeks di bursa Wall Street dan di kawasan regional, namun dibayangi oleh pergerakan melemah nilai tukar Rupiah dan rilis pertumbuhan ekonomi Tiongkok. IHSG hari ini di perkirakan akan bergerak dalam range 4571/4517 - 4714/4802.
Cermati : ERAA, INDF, LPPF, SCMA, ITMG
 

Morning Note 20 April 2020

 IHSG di perdagangan jumat kemarin di tutup menguat 154,21 poin atau menguat 3,44% setelah bergerak positif sepanjang sesi perdagangan. Sebanyak 262 saham di tutup naik, 132 saham di tutup turun dan 131 saham di tutup stagnan. Secara sektoral, seluruh sektor di tutup menguat dengan penguatan terbesar di pimpin oleh sektor Infrastruktur di susul oleh sektor Aneka Industri yang masing - masing di tutup menguat 6,04% dan 4,11%. Kinerja IHSG sejalan dengan kinerja bursa kawasan asia yang kompak di tutup di zona hijau. Bursa asia menguat bersama dengan ekuitas berjangka di Amerika Serikat, di tengah langkah tentatif untuk memulai kembali ekonomi Amerika dan kemajuan dalam perang melawan virus corona. Presiden AS Donald Trump tengah berencana untuk mulai menghapus social distancing dalam empat pekan ke depan, termasuk mengembalikan aktivitas perkantoran dan kegiatan akademis seperti kondisi normal di tengah puncak wabah di AS. Sementara itu tiongkok   melaporkan Produk domestik bruto nya  berkontraksi -6,8 persen pada kuartal I 2020 dari tahun sebelumnya, di tengah hantaman pandemi virus corona terhadap tiongkok dan prospek perekonomian global. Perolehan ini menjadi kinerja terburuk bagi ekonomi tiongkok sejak setidaknya tahun 1992 ketika rilis resmi PDB kuartalan dimulai, sekaligus lebih buruk daripada proyeksi konsensus untuk penyusutan sebesar -6 persen. Disisi lain, produksi pabrik dilaporkan turun -1,1 persen pada bulan Maret, penjualan ritel merosot -15,8 persen, dan investasi menurun -16,1 persen sepanjang tiga bulan pertama tahun ini. Sebagian besar trader telah berdamai dengan fakta kontraksi ekonomi pertama China dan menemukan kelegaan bahwa penurunan output industri tiongkok sebesar 1 persen pada Maret jauh lebih baik dari perkiraan. Namun, asing masih mencatatkan aksi jual di pasar reguler mencapi Rp 543 miliar dengan saham - saham yang paling banyak di jual yakni ASII, BTPS, BMRI, SMGR, KLBF.  
 
Indeks saham di  bursa Wall Street di perdagangan akhir pekan kemarin ditutup menguat. Indeks Dow ditutup menguat 2,99%, Indeks Nasdaq menguat 1,38% dan Indeks S&P menguat 2,68%. Menguatnya indeks tersebut seiring spekulasi pelaku pasar terhadap kemungkinan pulihnya perekonomian AS setelah usainya penerapan karantina wilayah. Spekulasi tersebut juga muncul di tengah penemuan obat virus Corona. Selain itu, menguatnya indeks turut ditopang oleh naiknya harga saham Boeing sebesar 14,72% seiring dengan rencana Presiden AS, Donald Trump, untuk membuka kembali ekonomi yang terpukul akibat virus Corona. Boeing dikabarkan berencana untuk memulai kembali produksi pesawat komersial di negara bagian Washington setelah bulan lalu operasionalnya terhenti akibat pandemi Corona. Sentimen lain pendorong indeks datang dari menguatnya saham Gilead Sciences sebesar 9,73% setelah sebuah laporan menyebutkan bahwa pasien dengan gejala Covid-19 yang parah telah merespon positif obat eksperimental Remdesivir dimana pasien tersebut menunjukkan pemulihan yang cepat dari demam dan gangguan pernapasan. Laporan tersebut mengutip data parsial dari RS Universitas Chicago, satu dari 152 lokasi yang berpartisipasi dalam uji coba. Namun meski demikian, Gilead Sciences mengatakan totalitas data dari uji coba perlu dianalisis dan diharapkan melaporkan hasil penelitian yang menguji obat pada pasien Covid-19 yang parah pada akhir April 2020 mendatang. Terkait usainya penerapan karantina wilayah, beberapa negara bagian AS diharapkan mulai mengumumkan jadwal untuk mencabut batasan-batasan karantina wilayah setelah sebelumnya pada Kamis pekan kemarin Presiden Donald Trump meluncurkan tiga tahap pedoman pencabutan pembatasan pada bisnis dan kehidupan sosial untuk mencegah penyebaran pandemi Corona. Sementara itu saham perbankan mengalami rebound setelah mengalami tekanan selama empat hari perdagangan secara beruntun akibat kinerja laba yang mengecewakan dan pencadangan dana miliaran US Dollar untuk menutupi kemungkinan gagal bayar akibat pandemi Corona.
 
Dari kawasan regional pagi ini, Indeks Nikkei dibuka  melemah -1,04% yang terbebani oleh kekhawatiran investor terhadap jumlah kasus Corona di Jepang yang telah melampaui angka 10.000 serta sikap pemerintah Jepang yang memperluas status darurat nasional dari semula tujuh prefektur menjadi ke semua prefektur di Jepang.
 
Untuk perdagangan di bursa domestik hari ini, IHSG diperkirakan akan bergerak sideways dimana sentimen eksternal terkait dengan spekulasi dan harapan ditemukannya obat Corona, dibayangi oleh sentimen domestik terkait peningkatan kasus Corona di Indonesia, proyeksi penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia serta diturunkannya peringkat utang Indonesia oleh lembaga S&P dari outlook stabil menjadi outlook negatif.  IHSG hari ini di perkirakan akan bergerak dalam range 4531/4428—4688/4741.

Cermati :
ASII, BBNI, BBRI, ERAA, KLBF, SCMA
 

Morning Note 24 April 2020

 IHSG di perdagangan kemarin di tutup naik 25.99 poin atau menguat 0,57% setelah bergerak menguat sepanjang sesi perdagangan. Sebanyak 186 saham di tutup naik, 183 saham di tutup turun dan 161 saham di tutup stagnan. Secara sektoral, sebanyak 7 sektor menopang penguatan IHSG dengan penguatan terbesar di pimpin oleh sektor Consumer di susul oleh sektor Manufaktur yang masing - masing di tutup 2,33% dan 2,21%. Penguatan IHSG mengikuti kinerja bursa wall street pada perdagangan sebelumnya yang kompak di tutup menguat. Pasar merespons positif kenaikan harga minyak yang menguat hingga ke level US$14.6 untuk WTI dan US$21 untuk Brent. Harga emas turut naik ke level US$1.737. Dari sisi domestik,  saham yang memiliki bobot  besar pada IHSG seperti UNVR dan BBRI mulai masuk ke foreign net buy sehingga mendorong naik IHSG . Namun secara keseluruhan asing masih mencatatkan aksi jualnya di pasar reguler mencapai Rp 184 miliar dengan saham - saham yang paling banyak di jual yakni TLKM, ASII, BMRI, BBNI, BBCA.
 
Indeks saham di bursa Wall Street di perdagangan tadi malam ditutup bervariasi terbatas. Indeks Dow ditutup menguat 0,17%. Sementara Indeks Nasdaq dan indeks S&P ditutup melemah masing-masing -0,01% dan -0,05%. Bervariasinya penutupan indeks tersebut dipengaruhi oleh sebuah laporan yang menyebutkan bahwa obat virus Corona yang tengah diuji menunjukkan hasil yang buruk dalam sebuah tes. Obat Covid-19, Remdesivir, yang diproduksi oleh Gilead Sciences, gagal dalam uji klinis acak pertama. Hal tersebut dilaporkan oleh Financial Times, mengutip draft dokumen yang diterbitkan secara tidak sengaja oleh WHO. Financial Times melaporkan bahwa uji coba di Tiongkok menunjukkan bahwa Remdesivir tidak memperbaiki kondisi pasien atau mengurangi keberadaan patogen dalam aliran darah. Namun di sisi lain, Gilead kemudian membantah laporan tersebut dan mengatakan bahwa hasil dari penelitian tersebut tidak meyakinkan karena dihentikan lebih awal. Di sisi lain, saham Exxon dan Chevron mencatatkan penguatan terbesar di sektor energi setelah harga minyak mentah WTI melanjutkan penguatannya. Bahkan pergerakan indeks tadi malam mengabaikan data klaim pengangguran AS yang melonjak sebesar 4,4 juta pada pekan lalu. Total warga AS yang kehilangan pekerjaan sekarang melebihi 26,5 juta orang atau 16,2% dari total angkatan kerja setelah penutupan perekonomian yang dipicu oleh wabah virus Corona. Lonjakan klaim pengangguran tersebut terjadi menyusul penurunan harga minyak, penjualan ritel, produksi, manufaktur, pembangunan rumah dan penjualan rumah.
 
Dari kawasan regional pagi ini, Indeks Nikkei dibuka melemah -0,50% yang dipengaruhi oleh sikap investor yang mencermati rilis sejumlah data ekonomi AS yang lemah dan juga data ekonomi Jepang yang menunjukkan adanya perlambatan ekonomi, yang diimbangi oleh sentimen naiknya harga minyak.
 
Untuk perdagangan di bursa domestik hari ini, IHSG diperkirakan masih berpotensi melanjutkan penguatannya seiring dengan masih meningkatnya harga minyak, dengan dibayangi oleh sentimen eksternal tekait kabar kegagalan uji coba obat Corona dan sentimen domestik terkait pembatasan akses Jabotabek serta pelarangan mudik. IHSG di perkirakan akan bergerak dalam range 4567/4541 - 4624/4655.

Cermati :
ASII, BBRI, BMRI, INDF, ITMG, MNCN, PTBA
 
 

Morning Meeting

Morning Note 21 April 202521 Apr 2025 09:29

IHSG di perdagangan pekan kemarin ditutup naik 38.22 poin atau menguat 0,60% setelah bergerak menguat di sepanjang sesi perdagangan dalam range 6.384,29-6.438,27. Sebanyak 344 saham [ ... ]

Read more...
Morning Note 27 Maret 202527 Mar 2025 14:45

IHSG di perdagangan kemarin naik 236,74 poin atau menguat 3,80% setelah bergerak dalam range 6.235,54-6.489,15. Sebanyak 554 saham ditutup menguat, 123 saham ditutup melemah dan 281 [ ... ]

Read more...
Morning Note 26 Februari 202526 Feb 2025 15:10

IHSG di perdagangan kemarin ditutup turun 162.51 poin atau melemah signifikan –2.41% setelah bergerak melemah disepanjang perdagangan dalam range 6.576,97-6.772,65. Sebanyak [ ... ]

Read more...
  • Yuk Nabung Saham, Ayo Investasi di Reksa Dana
  • Yuk Nabung Saham
  • LAPS SJK
  • OJK
  • IDX
  • KPEI
  • KSEI
  • Akses-Ksei
  • SIPF